Sabtu, 22 April 2017

Pernikahan kedua

Posted by cuap-cuap ratih on 06.07 with 4 comments
"Sudah sejak kapan abang..." kalimat itu tergantung begitu saja, aku tak sanggup untuk bertanya. Tapi sekuat tenaga aku ingin mengatakannya.
"Sudah sejak kapan abang menikah dengannya?"
"Jauh sebelum abang menikahimu" jawaban datar tanpa ada rasa terlontar begitu saja.

Berani betul dia mengatakannya tepat didepan wajahku dengan sikap tanpa rasa bersalah.
Jadi selama ini aku telah dibohonginya mentah-mentah. Betapa bodoh aku tidak mengetahui tanda-tandanya sedikitpun.

Pernikahan kami bukannya pernikahan yang sembunyi-sembunyi. Semua orang di desanya, orang tuanya, saudara-saudaranya, teman dan sahabatnya juga begitu dari pihakku. Rasanya tak ada yang luput untuk kami undang.

Tak ada satu kata yang dapat keluar dari mulutku, terkatup begitu kuatnya tertutup amarah dan aku sangat terkejut. Ternyata aku adalah pernikahannya yang kedua.

"Kapan itu?"
"Lima tahun sebelum kita menikah"
"Dan sekarang statusnya dia apa?"
"Masih istriku"

Dia hanya bisa menunduk tanpa bisa menatap wajahku. Setelah kemarahan yang berusaha kutahan ini membuat seluruh tubuhku lemas. Meski aku terduduk tapi tidak kurasakan empuk tidaknya kursi yang menyangga badanku. Tanpa terasa airmata berlomba mengalir deras keluar dipipiku. Pecah sudah tangisku. Perasaan terkhianati memelukku erat, dadaku terhimpit dan membuatku sulit untuk bernafas dengan normal.

Suamiku, masih begitu statusnya saat ini, hanya membiarkan diriku mengeluarkan semua persediaan airmata yang ada. Kurasa itulah sikapnya yang memang harus dia perankan. Menutup mulutnya dan diam. Duduk diseberang kursiku seperti patung sampai selesai kuhabiskan airmata ini..

Sesuatu yang busuk tidaklah dapat disimpan lama-lama, pada akhirnya akan tercium juga kebusukannya.

Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Hatiku menjerit tapi tidak dengan mulutku. Semakin lama pandanganku semua menjadi gelap.

Hanya terdengar samar suara bang Bima memanggil namaku,"Rianti.. sayang.. sadarlah.. yang"

-bersambung-

Kamis, 09 Maret 2017

Belajar Agama

Posted by cuap-cuap ratih on 10.24 with No comments
Belajar Agama

Kalimat "Di dunia, kalau salah pakai baju masih bisa ganti tapi kalau salah agama bagaimana mau ganti, tahunya sudah di akhirat sudah terlambat untuk bertobat"

Deg.. kalimat ini dulu benar-benar menggugah saya. Memang benar keislaman saya karena orang tua beragama Islam. Tapi apakah agama ini yang benar? Kenapa harus beragama ini?

Saya juga baru memiliki pemikiran seperti ini setelah dewasa. Saat masih kecil yang ditahu hanya makan, tidur, sekolah, main. Apalah yang diberi orang tua itu yang diterima.

Disuruh les ini itu, selama menyenangkan hayo aja, disuruh ngaji ya jalan aja. Maka benar kalau orang tua yang dapat menjadikan anaknya sesuai dengan kepercayaannya. Anak-anak masih polos.

Namun setelah beranjak dewasa harusnya lebih peka terhadap hal ini. Menentukan bagaimana dan seperti apa agama yang dipeluknya. Karena disanalah terdapat tujuan mengapa kita hidup. Mempertanyakan eksistensi diri sendiri. Atau amal-amal yang kita lakukan sudah sesuai dengan tuntunan belum. Jadi saat beramal sudah tahu dasar ilmunya dan dengan ilmu beramal bisa maksimal.

Terbukti meski dari kecil memeluk Islam artis Asmirandah setelah menikah mengikuti agama suaminya yang non muslim dan banyak lagi cerita publik figur atau rakyat kebanyakan yang memilih agama lain setelah dewasa. Entah memang dengan pemikirannya atau alasan lainnya.

Inilah pentingnya belajar agama, agar tahu bagaimana agama yang dipeluknya. Tidak sedikit juga yang semakin erat memegang ajaran Agama Islam dengan lebih dekat, lebih taat, dan lebih menyeluruh setelah mengenal lebih dalam agamanya.

Belajar agama hendaknya dengan orang yang khusus atau memang ahli dibidangnya. Guru yang diakui kapasitas dan otorisasi keilmuannya. Tentunya harus mengacu pada Al Quran dan Sunnah. Kalau diluar itu kita harus waspada dan punya rasa skeptis. Jangan sampai kita mengikutinya membabi buta tanpa proses berfikir dan mencari kebenarannya.

Membiasakan diri untuk bertafakur yaitu berfikir dan merenungkan sesuatu. Tafakur bisa saja mengenai ayat-ayat Tuhan, penciptaan alam dan segala isinya atau hal lainnya.

Permasalahan dalam hidup haruslah selalu dipandang dengan kacamata agama. Beragama sudah menjadi bagian yang tidak dapat lepas dari kehidupan karena fitrahnya manusia seperti itu.

Belajar agama diharapkan akan menampilkan akhlak agama yang dianutnya. Kebaikan atau keburukan akan tercermin dari perilakunya dari seberapa jauh mengenal agamanya. Hal ini berlaku bila tidak ada kepentingan lain, selain memang ingin beragama dengan benar.

Beda cerita bila mempelajari Islam dengan tujuan untuk kepentingan lain. Walaupun mengerti dan faham tetapi hal itu ditutupi atau dijadikan alat untuk mendukung kepentingannya tersebut. Memiliki gelar akademis berderetpun tidak ada artinya bila akhlak yang dimiliki bertolak belakang dengan yang diajarkan oleh agamanya. Apalagi keilmuannya itu tidak digunakan untuk membela agamanya.

Islamphobia tercipta karena akhlak-akhlak yang ditampilkan tidak sesuai dengan ajarannya. Ada banyak kepentingan yang menutupinya. Berarti bukan salah Islamnya, bisa jadi karena sudah tercampur dengan kepentingan manusia.

Belajar agama dari kecil lebih dianjurkan dan diutamakan sehingga mudah membentuk kebiasaan yang diwajibkan dalam agamanya, seperti kalau dalam Islam menunaikan rukun Islam yang 5. Semoga tidak salah pilih, agama yang dianut akan membawa keselamatan untuk kita.

#terinspirasi cerita teman yang selama hidupnya terus berganti agama yang berlainan, mungkin seluruh agama yang ada didunia. Agama kok coba-coba?


Sumber gambar: lintas.co.id

Minggu, 05 Maret 2017

SAYAP

Posted by cuap-cuap ratih on 09.47 with No comments
Selalu saja menerima kekalahan.
Apa aku yang salah?
Rasa ini memenjarakan jiwaku.

Terlalu lama terdiam.
Panggilan itu terdengar dari jauh dan saat kuberbalik dia menghantam tubuhku.
Aku ingin berlari.
Menenggelamkan diri dalam kelam samudra.
Membakar marah ini sampai habis tapi hanya gelap yang kugenggam.

Ku terjatuh.
Ku tutup telinga hingga tak kudengar lagi tawa.
Menangis sendiri.

Ku terbangun mendapati diri terkunggung dalam warna cerah yang menyilaukan mata.
Dimana ini? 
Pil pahit yang harus kutelan membawaku dalam dunia lain.

Kuberayun hingga langit terasa dekat.
Airmata menetes dalam kepedihan.
Menggambarkan jalan kehidupan.

Adakah terang hanya fatamorgana? 
Hanya lorong ini akan membawaku kepada Tuhan.
Genggam tanganku.
Berikan aku sayap.

Aku akan menunggu.
Dunia hanya sementara.
Dia selamanya.


sumber gambar by google

Sabtu, 04 Maret 2017

Cuma Mau Jujur

Posted by cuap-cuap ratih on 23.52 with No comments
Mobil mungil kami berusaha membelah jalan Juanda di daerah Depok yang seringkali macet apalagi saat ini sedang turun hujan. Ini saat yang paling menyenangkan buatku. Berdua didalam mobil dan tema apa saja bisa masuk dalam obrolan kami.
Pernah dengar Superman? Iyaa Super hero yang lahirnya di Amerika tuh, bisa terbang dan punya kekuatan super. Nah ga ada hubungannya juga sih cuma mau menyamakan saja kalau Superman selalu muncul pada saat dibutuhkan, suami juga seperti itu pekerjaannya. Bekerja terutama saat ada yang mau operasi karena tanggungjawabnya pada wilayah pembiusan pasien. Dan itu yang seringkali membuatnya berpindah-pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Aku sering menggodanya dengan lagu one call away-nya Charlie puth walaupun cuma tahu reff nya aja pada saat ada telpon yang menghubunginya. Rasanya tu ya dia banget gituh..

“I'm only one call away
I'll be there to save the day
Superman got nothing on me
I'm only one call away

Suami bercerita, pernah mobil harus masuk ke bengkel dan untungnya bisa selesai satu hari saja. Tapi suami tidak bisa otomatis libur atau tidak bekerja karena tidak ada kendaraan. Siang itu ada dua operasi di dua rumah sakit yang berbeda. Akhirnya suami memutuskan menggunakan armada online, motorlah yang jadi pilihannya. Salah satu keunggulan untuk wilayah yang banyak titik kemacetan bahwa motor bisa sampai lebih cepat disamping armadanya yang banyak berseliweran menjamin ketersediaan dalam menjawab orderan yang ditawarkan.
Saat memesan yang pertama kali suami mendapatkan diskon yang lumayan banyak mencapai 50% dari tarif yang dikenakan seharusnya. Tidak tahu juga kenapa bisa sampai didiskon sebanyak itu. Tarifnya akan dikirimkan melalui email sehingga suamipun akan mengetahui masalah diskon ini, berapa jumlah uang yang harus dibayarkannya.  Pengendara motor online ini sangatlah jujur, meskipun ada email yang memberikan info, dia tetap saja menyampaikan kepada suami jumlah yang harus dibayar termasuk diskonan yang diterima. Bersyukur tugasnya yang pertama berjalan dengan lancar, dan menuju tugas yang kedua di rumah sakit yang berbeda namun tidak terlampau jauh kira-kira 10 km dari rumah sakit yang pertama.
Memesan lagi motor online untuk yang kedua kalinya. Tanpa disangka-sangka dapat diskon lagi dan bertambah besar jumlahnya. Pengendara kedua juga berlaku sama dengan pengendara pertama, dia jujur menyampaikan mengenai tarif yang ada.
Saat akan kembali ke bengkel, tetiba ada telpon masuk yang mengabarkan akan ada operasi cito di rumah sakit yang pertama. Dan suami harus kembali ke rumah sakit yang pertama. Untuk ketiga kalinya suami memesan motor online dan sangat mengejutkan tarifnya tertulis nol rupiah alias gratis. Pengendara ketiga ini tidaklah sama dengan pengendara yang pertama dan kedua, dia sama sekali tidak menyinggung mengenai diskonan yang didapat suami. Di situlah suami menyayangkan tindakan pengendara ketiga ini.
Aku sempat bertanya kepada suami, “kalau saja nih, dia bilang bahwa abang dapat diskon sehingga tidak perlu membayarnya alias gratis. Apa abang tetep akan memberikannya uang?”
“Iya.”
“Kasihanlah, dia sudah kerja. Masa tidak dikasih uang?”
“Tapikan abang dapat diskon,” belaku.
“ya ga apa, anggap aja abang kasih tips tapi sayang dia tidak jujur.” kata suamiku

Masih harus pesan motor online untuk yang keempat kalinya dengan tujuan bengkel. Tarifnya pun kembali seperti biasa, ternyata diskonnya hanya untuk motor online yang pertama sampai ketiga. Meski tidak mengalaminya sendiri aku juga jadi ikut merasakan naik motor online dengan cerita suamiku itu. Kejujuran adalah hal yang utama. Kalau ingin orang jujur kepada kita maka harus dimulai dari diri kita dulu yang harus jujur karena apa yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali pada kita. Kalaupun akhirnya tidak sesuai dengan yang kita usahakan, itu adalah ujian agar kita lebih bersabar. ^^
                                           sumber gambar: duit pintar.com

Jumat, 03 Maret 2017

Pemicu Kebaikan

Posted by cuap-cuap ratih on 14.16 with No comments
Sudah jumat lagi ya? Wah saya lupa titip uang sedekah ke anak saya. Tiap hari jumat rutin memang ada program sedekah di sekolahnya, jadi saya mau ikut juga dong.

Kalau bisa sih setiap hari sedekahnya, ya ga? Sudah taulah kalau sedekah itu akan mendapat pahala dan perniagaan yang tidak ada ruginya.

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat PAHALA di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati"(Al Baqoroh:274)

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan PERDAGANGAN YANG TIDAK AKAN RUGI"(Fathir:29)

Ihh gitu aja diumumin ga takut riya apa? Jadi orang jangan sombong!

Isshh.. isshh ga boleh suudzon, hayoo.. tidak dilarang kok sedekah terang-terangan asal..

Asal tetap menjaga niat, tidak membuat malu orang yang disedekahi, maksudnya menjaga perasaan dan kemuliaannya dan juga diniatkan hal yang dilakukan itu dapat menjadi pemicu orang lain untuk ikut melakukan hal yang sama, ikut bersedekah juga.

"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau TERANG-TERANGAN serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)" (Ar-Ra'd: 22)

Pemicu kebaikan dengan menitipkan uang sedekah, minimal anak saya juga bisa terpancing untuk melakukan hal yang sama. Balik lagi anak-anak akan lebih faham belajarnya dengan contoh bukan hanya dengan perkataan.

Apa yang mau disombongin juga, belum tentu jumlah uang yang disedekahinya besar, belum tentu sedekahnya uang kan senyum juga sedekah, sedekah tenaga aja juga boleh. Bebas yang penting dah diniatkan untuk bersedekah.

Cocokologinya pemicu kebaikan sama dengan memberikan contoh dalam melakukan kebaikan.

Hari ini pemicu kebaikan apa yang bisa dilakukan selain bersedekah?

Kamis, 09 Februari 2017

Jingga

Posted by cuap-cuap ratih on 13.58 with 5 comments
Kau tau, saat jingga adalah saat memulai hari yang baru.
Jingga memudarkan sendunya kegelapan.
Menyungingkan senyum diwajah pencari kebahagiaan.

Yang kumaksud, dia jingga sang mentari.
Dia membiaskan warna-warni dalam hidup.
Tidak saja tawa tapi juga saat meratapi nyeri dihati.

Saat hujan aku bisa sangat merindukannya, ingin memeluk erat dalam dekapan.
Tapi jingga membuatku kecewa selalu saja menghindar dan mengacuhkan.

Takdir memang akan menang, akupun tak ingin berjanji.
Aku hanya berdoa takdirmu dan takdirku adalah satu.

Suara hatiku tergantung dilangit merambat dalam tiupan angin. Laut pun tidak bisa diam ingin menyampaikannya padamu, jingga.
Aku memang awan hitam, tak bolehkah ku mencintaimu?

Kasihku mungkin tak sampai.
Jiwaku pun terdiam.
Telah tiba saatnya aku pergi.
Membiarkanmu menepis kelam.

Bercahayalah jingga, hingg kau puas.
Rasa sakit yang kurasa adalah milikmu.
Meski pelangi tak terlukis.
Sayangku dan sayangmu akan melengkapi untuk hari yang lebih manis.

***



Minggu, 15 Januari 2017

Perasaan Emak Tentang Debat Cagub DKI 2017

Posted by cuap-cuap ratih on 18.17 with No comments
Perasaan.. yang namanya debat suruh dihindari apalagi yang namanya debat kusir.

Perasaan.. kalau debat itu hanya memperuncing perbedaan. Padahal seharusnya bersatu untuk membangun. Yang ngatur manusia yang diatur juga manusia, permasalahan selesai dengan win-win solution ini yang namanya demokrasi.

Perasaan.. debat sudah seperti acara cerdas cermat tapi tidak ada jawaban benar atau salah jadi tidak ada penambahan nilai.

Perasaan.. perasaan.. oh perasaan.
Namanya juga emak-emak ye. Mikir juga pake perasaan.

Untuk memilih pemimpin memang tidak mudah. Sudah sering nih emak milih pemimpin maklum umur dah banyak kedaftar terus buat milih. Suara emak kadang terwakili kadang juga tidak. Kan yang emak pilih belum tentu jadi pemimpin. Dan pemimpin yang terpilih punya solusi untuk menyelesaikan permasalahan daerah yang dipimpinnya.

Jadi kalau ditanya bagaimana cara memilih pemimpin?

1. Agamanya Islam. kenapa?  Karena sama dengan agama emak. kalau pemimpin takut terhadap Tuhannya dia tidak akan berlaku dzolim terhadap makhluk ciptaanNya. Idealnya sih begitu. Apa lagi sudah diatur dalam Al quran. Ngeri ah.. kalau ga patuh sama Allah. Lihat surat Al maidah ayat 51.

2. Amanah.. gimana liatnya? Yang di calonkan biasanya orang yang sudah biasa memimpin jadi bisa tuh liat dari model kepemimpinannya. Tak kenal maka tak sayang jadi aktif cari tahu siapa mereka. Terutama amanah untuk urusan kepentingan rakyat.

3. Dapat dipercaya.. ucapan dan perbuatannya harus seiring sejalan. Kalau tidak yaa.. namanya munafik dong. Masa iya mau dipimpin sama orang begini. Kalau bisa yang bicaranya lemah lembut juga mendamaikan. Adem deh rasanya.

4. Bisa menyatu dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Lihatnya dari bagaimana pemimpin itu dapat diterima oleh semua warganya jadi walaupun ada banyak kepentingan tapi selama kepemimpinannya bisa diterima, tentu semua pihak dapat mencapai kata kesepakatan.

Belajar dari pengalaman yang selama ini seringnya menghadapi pilihan yang sulit. Manusia tidak ada yang sempurna begitu pula dengan pemimpin. Minimal memilih pemimpin yang bisa sesuai hati nurani.

Nah itu cara memilih versi emak. Bagaimana memilih pemimpin versi kamu? Bukan hanya karena faktor suka ya udah pilih "dia" aja karena aku suka.

#smillleee :D bukan warga jakarta sih.. tapi perduli, bolehkan?




Jumat, 13 Januari 2017

Dosen Terbangku

Posted by cuap-cuap ratih on 17.37 with No comments
Dulu belum ada istilah yang namanya garuk-garuk tembok karena inilah yang akan aku lakukan bila hal itu terulang kembali saat ini.

**
"Teman-teman sudah tidak ada yang kelihatan nih," kataku sambil celingukan kekanan dan kekiri. Menunggu seorang diri membuatku jadi gelisah. Jam sudah menunjukkan hampir jam 11 siang tapi Tita teman seperjuanganku belum kelihatan. Sama-sama pejuang penulisan akhir di masa kuliah.. iya skripsi!

"Nah itu dia," seruku saat melihat Tita di kejauhan. Kulambaikan tangan agar bisa terlihat lebih jelas keberadaanku. Tita tergopoh-gopoh mendatangiku.

"Aduh.. maaf ya Ra, angkotku tadi ngetemnya lama banget, pingin turun ganti angkot tapi ga ada yang lewat,"kata Tita sambil membetulkan letak tas di bahunya yang mulai melorot.

"Ya udah ga papa, sekarang kita langsung ke stasiun saja biar tidak tambah siang. Kita kan tidak tahu jadwal mengajarnya pak Sudiono harus tanya ke gedung kenari dulu," kataku sambil melangkah.

         Kebetulan aku dan Tita tinggal di daerah yang sama, kuliah bahkan kita dikumpulkan di kelas yang sama. Kami janjian untuk pergi ke kampus tempat Pak Sudiono mengajar mahasiswa S2 kampus kami. Sudah nasib dapat dosen pembimbing terbang, terbang kesana dan kemari. Mahasiswanya jadi ikut mondar mandir. Pak Sudiono aslinya dosen UGM Jogja jurusan Akuntansi yang diminta mengajar di kampusku. 

         Dosen pembimbing memang ditentukan oleh jurusan dan kalau mau ganti pembimbing akan menghadapi urusan administrasi yang rumit ditambah dosen-dosen yang aku faforitkan tidak membimbing semester ini. Ya sudahlah terima nasib.

         Tidak kenal sebelumnya dengan dosen pembimbingku ini walaupun dikampus aku sudah kuliah selama 3,5 tahun. Tapi setelah menerima surat bimbingan baru aku banyak mendengar mengenai Pak Sudiono dari senior-senior yang pernah dibimbingnya.

         Susah! Itu yang mereka katakan. Bahkan ada yang menyerah ditengah jalan dan mengganti dengan kompre sebagai syarat kelulusan akhir. Waduh.. makin ciut nyaliku padahal belum bertemu.

         Tidak ada kata mundur mau tidak mau harus dikerjakan, lah bisa tidak selesai skripsiku kalau belum apa-apa sudah takut duluan.

         Pertemuan pertama, pengajuan judul. Giliranku! Aku masuk kedalam perpustakaan yang sepi. Sepertinya ini tempat kesukaan Pak Sudiono dibanding ruangannya sendiri. Segera aku memberi salam, Pak Sudiono hanya menganguk dan aku langsung duduk dihadapnnya.

"Ini kira-kira judul yang ingin saya tulis pak," Sambil menyerahkan lembaran judul. Tanpa diminta aku sedikit menjelaskan apa yang ingin dibahas dan tujuan akhir dari penulisan ini.

         Kesan pertama, sebenarnya Pak Sudiono sudah membuatku tersenyum. Pak Sudiono memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi namun juga tidak pendek. Badannya gemuk terutama di perutnya yang membusung membuat posisi saat duduk lebih sering bersandar di kursi dan itu membuatnya agak kesulitan bila ingin mengkoreksi lembar-lembar ketikan skripsi mahasiswa yang terletak pada meja didepannya. Pak Sudiono menyiasati dengan memiringkan kekiri kursi duduknya, sehingga tangan kanan dapat menopang di meja dan kertas-kertas itu siap untuk diberi coret-coret. Beruntung kursi dilengkapi roda hingga mudah untuk Pak Sudiono memajukan dan memundurkannya.

         Kesan kedua, Grogi abis! Aku sampai bisa mendengar detak jantungku sendiri tanpa stetoskop. Apa Pak Sudiono juga mendengarnya? Entahlah..

         Kalimat pertama yang aku dengar. "Memang belum ada yang pakai judul itu, cukup menarik. Lalu kamu akan ambil datanya dari mana?"Pak Sudiono berbicara sangat lambat menurut takaran telingaku. Terkadang aku juga harus mencodongkan badanku sedikit kedepan untuk mendengarkan dengan lebih teliti apa yang disampaikan olehnya. Sayup-sayup suaranya. Aku menduga usianya masih sekitar 50-60 tahunan.

         Alhamdulillah judul penulisan lolos dengan satu kali pengajuan. Aku berharap ini awal yang baik. Didadaku bergejolak dengan semangat empat lima untuk menulis skripsi. Targetku tiga bulan menyelesaikannya. Karena aku juga harus melakukan pekerjaan sampinganku sebagai pengajar di lembaga kursus, aku rasa cukuplah waktu yang telah direncanakan. Tetapi rencana tinggal rencana.

"Bu, Pak Sudiononya ada?"Tanyaku kepada bagian admin diruang dosen.
"Pak Sudiononya ke medan untuk dua minggu ke depan"jawab bu admin yang hanya sekilas memandangku dan terus melanjutkan pekerjaannya.

         Mendapatkan jawaban seperti itu aku cuma bisa bengong sambil berjalan ke pintu. Serasa jiwaku lepas dari raga. Aku merasa Pak Sudiono sudah janji mau bertemu hari ini!. Tapi tidak lama kesadaranku kembali. Tetiba seperti ada yang mengingatkanku untuk mempertanyakan jadwal mengajar Pak Sudiono berikutnya. Langsung balik badan dan bertanya lagi kepada bu admin,"Pak Sudiono, adanya kapan lagi bu?" Kembali bu admin melihat kearahku, "ya setelah itu, nanti balik lagi aja. Jadwal mengajarnya belum fix."

         Hari ini sedikit banyak aku belajar rasa ketidakpastian dan ketidakberdayaan mungkin juga perasaan dibohongi. Namun ini juga mengajarkan aku untuk tidak mudah menyerah dengan keadaan. Pengerjaan skripsi tetap aku lanjutkan walaupun bab sebelumnya belum ada persetujuan dari pembimbing, hitung-hitung sambil menunggu pertemuan dengan Pak Sudiono selanjutnya paling tidak aku sudah menyiapkan bahan-bahannya sehingga bila ada waktu bertemu aku akan mengajukannya secara terus menerus. "Rencana yang bagus bukan?" Pikiranku.

         Akhirnya pertemuan demi pertemuan dapat berjalan dengan baik. Ternyata memang tidak semudah yang aku bayangkan, tidak lantas bertemu dan langsung disetujui apa yang sudah aku persiapkan. Hingga hari-hari menjelang deadline pendaftaran sidang, panik aja bawaannya. Hari ini ada lagi pertemuan dengan Pak Sudiono, aku pun sudah bersiap ke kampus dari siang berharap Pak Sudiono akan datang lebih awal dari jadwal mengajarnya di malam hari. Tidak seperti biasa, mahasiswa yang dibimbing Pak Sudiono lebih banyak hadir hari ini. diantaranya ada beberapa senior juga yang aku kenal dan akhirnya bisa diduga giliranku menjadi paling akhir.

         Tiba saatnya aku menghadap Pak Sudiono namun waktu telah menunjukkan pukul 6 sore dan dari kejauhan terdengar suara adzan berkumandang.

“Saya harus menyudahi dulu bimbingan ini, jam tujuh saya ada kelas dan harus mengajar,” begitu kata Pak Sudiono. “Besok kamu datang aja lagi ya, saya janji akan memproritaskan kamu.” Badanku terasa lemas, kaki seakan diikat dilantai. Aku hanya bisa mengangguk dan membiarkan Pak Sudiono keluar ruangan.

         Tak terasa setitik air mata mengalir dipipiku. Aku tidak akan seambisi ini bila tidak ingat jadwal akhir pendaftaran sidang yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Sudah terbayang harus membayar uang kuliah semester Sembilan bila aku tidak dapat sidang kali ini. dan aku tidak ingin itu terjadi. Sekali lagi pelajaran berharga aku terima. Sesungguhnya aku telah berusaha tapi keadaan berkata berbeda dan aku harus bersabar dalam menjalaninya.

         Terima kasih Pak Sudiono, bukan hanya materi pelajaran akuntansi yang bertambah tetapi juga pelajaran kehidupan, merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Menjadikan diriku lebih dewasa dan bijaksana. Pada Akhirnya aku bisa sidang tepat waktu. Semua berjalan lancar dan lulus dengan nilai yang baik.


Masa lalu adalah bagian dalam hidup. Kita harus bisa menerimanya walaupun tidak bisa merubahnya. Memperbaiki diri adalah upaya memperbaiki masa depan dan bersyukurlah yang dilakukan saat ini.
Nama Pena Ratihhoney karena saya ingin tulisan saya membawa banyak manfaat seperti "madu". 

Minggu, 08 Januari 2017

Masa Naif

Posted by cuap-cuap ratih on 15.25 with No comments
     Entah itu kepolosan atau mungkin hanya kenaifan seorang aku, ada rasa-rasa berbeda setelah menghadiri reuni beberapa hari yang lalu.

     Teman yang hanya kenal wajah itu menghiasi pelupuk mata. Ingatan akan hari itu begitu jelas. Tatapan yang tidak biasa ternyata mampu menggoyahkan jiwa.

     Meski tahu rasa itu harus dibuang jauh-jauh aku malah tetap menyimpannya untuk kesenangan sendiri tidak perduli apakah dia merasakan hal yang sama atau tidak. Hanya rasaku sendiri dan aku tetap bahagia.

     Begini ternyata dimulainya perselingkuhan itu. Reuni bukan saja dapat menyambung tali silaturahim tapi dapat menimbulkan lagi rasa lama yang tertinggal malah dapat membuat rasa baru dengan orang-orang lama. Sungguh dahsyat pertemuan itu.

     Pertemuan selanjutnya dengannya memang tidak ada dalam kamus tindakanku. Aku masih cukup waras untuk mengontrol emosiku. Mengorbankan cinta yang telah mengisi hari dan keluargaku tak sebanding dengan tingkah nakalku ini. Cukuplah hanya menjadi hembusan untuk kegerahan suasana hatiku sesaat.

     Diantara teman-teman lama yang datang, dia tidak pernah aku kenal sebelumnya. Keberadaannya dulu adalah teman yang hanya bisa dipandangi dari kejauhan. Aku tahu dia tapi dia tidak tahu adanya diriku. Setidaknya itu yang ada dalam benakku mengenai pertemanan kita.

     Kesalahan sepenuhnya adalah diriku sendiri. Harusnya aku tidak membiarkan hatiku menilai salah atas kebaikannya. Atas tatapan yang mungkin sama dia lakukan untuk semua temannya.

      Biarlah waktu yang akan membawa jauh rasa itu. Tetaplah dia menjadi orang asing yang hanya sekedar lewat di hadapanku. Terjatuh pada pandangan pertama ternyata begitu melenakan. Semoga Tuhan tetap menjagaku dari syaitan yang terkutuk yang akan merusak hidupku. The endlah. Kelar!