Kamis, 09 Februari 2017

Jingga

Posted by cuap-cuap ratih on 13.58 with 5 comments
Kau tau, saat jingga adalah saat memulai hari yang baru.
Jingga memudarkan sendunya kegelapan.
Menyungingkan senyum diwajah pencari kebahagiaan.

Yang kumaksud, dia jingga sang mentari.
Dia membiaskan warna-warni dalam hidup.
Tidak saja tawa tapi juga saat meratapi nyeri dihati.

Saat hujan aku bisa sangat merindukannya, ingin memeluk erat dalam dekapan.
Tapi jingga membuatku kecewa selalu saja menghindar dan mengacuhkan.

Takdir memang akan menang, akupun tak ingin berjanji.
Aku hanya berdoa takdirmu dan takdirku adalah satu.

Suara hatiku tergantung dilangit merambat dalam tiupan angin. Laut pun tidak bisa diam ingin menyampaikannya padamu, jingga.
Aku memang awan hitam, tak bolehkah ku mencintaimu?

Kasihku mungkin tak sampai.
Jiwaku pun terdiam.
Telah tiba saatnya aku pergi.
Membiarkanmu menepis kelam.

Bercahayalah jingga, hingg kau puas.
Rasa sakit yang kurasa adalah milikmu.
Meski pelangi tak terlukis.
Sayangku dan sayangmu akan melengkapi untuk hari yang lebih manis.

***



Minggu, 15 Januari 2017

Perasaan Emak Tentang Debat Cagub DKI 2017

Posted by cuap-cuap ratih on 18.17 with No comments
Perasaan.. yang namanya debat suruh dihindari apalagi yang namanya debat kusir.

Perasaan.. kalau debat itu hanya memperuncing perbedaan. Padahal seharusnya bersatu untuk membangun. Yang ngatur manusia yang diatur juga manusia, permasalahan selesai dengan win-win solution ini yang namanya demokrasi.

Perasaan.. debat sudah seperti acara cerdas cermat tapi tidak ada jawaban benar atau salah jadi tidak ada penambahan nilai.

Perasaan.. perasaan.. oh perasaan.
Namanya juga emak-emak ye. Mikir juga pake perasaan.

Untuk memilih pemimpin memang tidak mudah. Sudah sering nih emak milih pemimpin maklum umur dah banyak kedaftar terus buat milih. Suara emak kadang terwakili kadang juga tidak. Kan yang emak pilih belum tentu jadi pemimpin. Dan pemimpin yang terpilih punya solusi untuk menyelesaikan permasalahan daerah yang dipimpinnya.

Jadi kalau ditanya bagaimana cara memilih pemimpin?

1. Agamanya Islam. kenapa?  Karena sama dengan agama emak. kalau pemimpin takut terhadap Tuhannya dia tidak akan berlaku dzolim terhadap makhluk ciptaanNya. Idealnya sih begitu. Apa lagi sudah diatur dalam Al quran. Ngeri ah.. kalau ga patuh sama Allah. Lihat surat Al maidah ayat 51.

2. Amanah.. gimana liatnya? Yang di calonkan biasanya orang yang sudah biasa memimpin jadi bisa tuh liat dari model kepemimpinannya. Tak kenal maka tak sayang jadi aktif cari tahu siapa mereka. Terutama amanah untuk urusan kepentingan rakyat.

3. Dapat dipercaya.. ucapan dan perbuatannya harus seiring sejalan. Kalau tidak yaa.. namanya munafik dong. Masa iya mau dipimpin sama orang begini. Kalau bisa yang bicaranya lemah lembut juga mendamaikan. Adem deh rasanya.

4. Bisa menyatu dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Lihatnya dari bagaimana pemimpin itu dapat diterima oleh semua warganya jadi walaupun ada banyak kepentingan tapi selama kepemimpinannya bisa diterima, tentu semua pihak dapat mencapai kata kesepakatan.

Belajar dari pengalaman yang selama ini seringnya menghadapi pilihan yang sulit. Manusia tidak ada yang sempurna begitu pula dengan pemimpin. Minimal memilih pemimpin yang bisa sesuai hati nurani.

Nah itu cara memilih versi emak. Bagaimana memilih pemimpin versi kamu? Bukan hanya karena faktor suka ya udah pilih "dia" aja karena aku suka.

#smillleee :D bukan warga jakarta sih.. tapi perduli, bolehkan?




Jumat, 13 Januari 2017

Dosen Terbangku

Posted by cuap-cuap ratih on 17.37 with No comments
Dulu belum ada istilah yang namanya garuk-garuk tembok karena inilah yang akan aku lakukan bila hal itu terulang kembali saat ini.

**
"Teman-teman sudah tidak ada yang kelihatan nih," kataku sambil celingukan kekanan dan kekiri. Menunggu seorang diri membuatku jadi gelisah. Jam sudah menunjukkan hampir jam 11 siang tapi Tita teman seperjuanganku belum kelihatan. Sama-sama pejuang penulisan akhir di masa kuliah.. iya skripsi!

"Nah itu dia," seruku saat melihat Tita di kejauhan. Kulambaikan tangan agar bisa terlihat lebih jelas keberadaanku. Tita tergopoh-gopoh mendatangiku.

"Aduh.. maaf ya Ra, angkotku tadi ngetemnya lama banget, pingin turun ganti angkot tapi ga ada yang lewat,"kata Tita sambil membetulkan letak tas di bahunya yang mulai melorot.

"Ya udah ga papa, sekarang kita langsung ke stasiun saja biar tidak tambah siang. Kita kan tidak tahu jadwal mengajarnya pak Sudiono harus tanya ke gedung kenari dulu," kataku sambil melangkah.

         Kebetulan aku dan Tita tinggal di daerah yang sama, kuliah bahkan kita dikumpulkan di kelas yang sama. Kami janjian untuk pergi ke kampus tempat Pak Sudiono mengajar mahasiswa S2 kampus kami. Sudah nasib dapat dosen pembimbing terbang, terbang kesana dan kemari. Mahasiswanya jadi ikut mondar mandir. Pak Sudiono aslinya dosen UGM Jogja jurusan Akuntansi yang diminta mengajar di kampusku. 

         Dosen pembimbing memang ditentukan oleh jurusan dan kalau mau ganti pembimbing akan menghadapi urusan administrasi yang rumit ditambah dosen-dosen yang aku faforitkan tidak membimbing semester ini. Ya sudahlah terima nasib.

         Tidak kenal sebelumnya dengan dosen pembimbingku ini walaupun dikampus aku sudah kuliah selama 3,5 tahun. Tapi setelah menerima surat bimbingan baru aku banyak mendengar mengenai Pak Sudiono dari senior-senior yang pernah dibimbingnya.

         Susah! Itu yang mereka katakan. Bahkan ada yang menyerah ditengah jalan dan mengganti dengan kompre sebagai syarat kelulusan akhir. Waduh.. makin ciut nyaliku padahal belum bertemu.

         Tidak ada kata mundur mau tidak mau harus dikerjakan, lah bisa tidak selesai skripsiku kalau belum apa-apa sudah takut duluan.

         Pertemuan pertama, pengajuan judul. Giliranku! Aku masuk kedalam perpustakaan yang sepi. Sepertinya ini tempat kesukaan Pak Sudiono dibanding ruangannya sendiri. Segera aku memberi salam, Pak Sudiono hanya menganguk dan aku langsung duduk dihadapnnya.

"Ini kira-kira judul yang ingin saya tulis pak," Sambil menyerahkan lembaran judul. Tanpa diminta aku sedikit menjelaskan apa yang ingin dibahas dan tujuan akhir dari penulisan ini.

         Kesan pertama, sebenarnya Pak Sudiono sudah membuatku tersenyum. Pak Sudiono memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi namun juga tidak pendek. Badannya gemuk terutama di perutnya yang membusung membuat posisi saat duduk lebih sering bersandar di kursi dan itu membuatnya agak kesulitan bila ingin mengkoreksi lembar-lembar ketikan skripsi mahasiswa yang terletak pada meja didepannya. Pak Sudiono menyiasati dengan memiringkan kekiri kursi duduknya, sehingga tangan kanan dapat menopang di meja dan kertas-kertas itu siap untuk diberi coret-coret. Beruntung kursi dilengkapi roda hingga mudah untuk Pak Sudiono memajukan dan memundurkannya.

         Kesan kedua, Grogi abis! Aku sampai bisa mendengar detak jantungku sendiri tanpa stetoskop. Apa Pak Sudiono juga mendengarnya? Entahlah..

         Kalimat pertama yang aku dengar. "Memang belum ada yang pakai judul itu, cukup menarik. Lalu kamu akan ambil datanya dari mana?"Pak Sudiono berbicara sangat lambat menurut takaran telingaku. Terkadang aku juga harus mencodongkan badanku sedikit kedepan untuk mendengarkan dengan lebih teliti apa yang disampaikan olehnya. Sayup-sayup suaranya. Aku menduga usianya masih sekitar 50-60 tahunan.

         Alhamdulillah judul penulisan lolos dengan satu kali pengajuan. Aku berharap ini awal yang baik. Didadaku bergejolak dengan semangat empat lima untuk menulis skripsi. Targetku tiga bulan menyelesaikannya. Karena aku juga harus melakukan pekerjaan sampinganku sebagai pengajar di lembaga kursus, aku rasa cukuplah waktu yang telah direncanakan. Tetapi rencana tinggal rencana.

"Bu, Pak Sudiononya ada?"Tanyaku kepada bagian admin diruang dosen.
"Pak Sudiononya ke medan untuk dua minggu ke depan"jawab bu admin yang hanya sekilas memandangku dan terus melanjutkan pekerjaannya.

         Mendapatkan jawaban seperti itu aku cuma bisa bengong sambil berjalan ke pintu. Serasa jiwaku lepas dari raga. Aku merasa Pak Sudiono sudah janji mau bertemu hari ini!. Tapi tidak lama kesadaranku kembali. Tetiba seperti ada yang mengingatkanku untuk mempertanyakan jadwal mengajar Pak Sudiono berikutnya. Langsung balik badan dan bertanya lagi kepada bu admin,"Pak Sudiono, adanya kapan lagi bu?" Kembali bu admin melihat kearahku, "ya setelah itu, nanti balik lagi aja. Jadwal mengajarnya belum fix."

         Hari ini sedikit banyak aku belajar rasa ketidakpastian dan ketidakberdayaan mungkin juga perasaan dibohongi. Namun ini juga mengajarkan aku untuk tidak mudah menyerah dengan keadaan. Pengerjaan skripsi tetap aku lanjutkan walaupun bab sebelumnya belum ada persetujuan dari pembimbing, hitung-hitung sambil menunggu pertemuan dengan Pak Sudiono selanjutnya paling tidak aku sudah menyiapkan bahan-bahannya sehingga bila ada waktu bertemu aku akan mengajukannya secara terus menerus. "Rencana yang bagus bukan?" Pikiranku.

         Akhirnya pertemuan demi pertemuan dapat berjalan dengan baik. Ternyata memang tidak semudah yang aku bayangkan, tidak lantas bertemu dan langsung disetujui apa yang sudah aku persiapkan. Hingga hari-hari menjelang deadline pendaftaran sidang, panik aja bawaannya. Hari ini ada lagi pertemuan dengan Pak Sudiono, aku pun sudah bersiap ke kampus dari siang berharap Pak Sudiono akan datang lebih awal dari jadwal mengajarnya di malam hari. Tidak seperti biasa, mahasiswa yang dibimbing Pak Sudiono lebih banyak hadir hari ini. diantaranya ada beberapa senior juga yang aku kenal dan akhirnya bisa diduga giliranku menjadi paling akhir.

         Tiba saatnya aku menghadap Pak Sudiono namun waktu telah menunjukkan pukul 6 sore dan dari kejauhan terdengar suara adzan berkumandang.

“Saya harus menyudahi dulu bimbingan ini, jam tujuh saya ada kelas dan harus mengajar,” begitu kata Pak Sudiono. “Besok kamu datang aja lagi ya, saya janji akan memproritaskan kamu.” Badanku terasa lemas, kaki seakan diikat dilantai. Aku hanya bisa mengangguk dan membiarkan Pak Sudiono keluar ruangan.

         Tak terasa setitik air mata mengalir dipipiku. Aku tidak akan seambisi ini bila tidak ingat jadwal akhir pendaftaran sidang yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Sudah terbayang harus membayar uang kuliah semester Sembilan bila aku tidak dapat sidang kali ini. dan aku tidak ingin itu terjadi. Sekali lagi pelajaran berharga aku terima. Sesungguhnya aku telah berusaha tapi keadaan berkata berbeda dan aku harus bersabar dalam menjalaninya.

         Terima kasih Pak Sudiono, bukan hanya materi pelajaran akuntansi yang bertambah tetapi juga pelajaran kehidupan, merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Menjadikan diriku lebih dewasa dan bijaksana. Pada Akhirnya aku bisa sidang tepat waktu. Semua berjalan lancar dan lulus dengan nilai yang baik.


Masa lalu adalah bagian dalam hidup. Kita harus bisa menerimanya walaupun tidak bisa merubahnya. Memperbaiki diri adalah upaya memperbaiki masa depan dan bersyukurlah yang dilakukan saat ini.
Nama Pena Ratihhoney karena saya ingin tulisan saya membawa banyak manfaat seperti "madu". 

Minggu, 08 Januari 2017

Masa Naif

Posted by cuap-cuap ratih on 15.25 with No comments
     Entah itu kepolosan atau mungkin hanya kenaifan seorang aku, ada rasa-rasa berbeda setelah menghadiri reuni beberapa hari yang lalu.

     Teman yang hanya kenal wajah itu menghiasi pelupuk mata. Ingatan akan hari itu begitu jelas. Tatapan yang tidak biasa ternyata mampu menggoyahkan jiwa.

     Meski tahu rasa itu harus dibuang jauh-jauh aku malah tetap menyimpannya untuk kesenangan sendiri tidak perduli apakah dia merasakan hal yang sama atau tidak. Hanya rasaku sendiri dan aku tetap bahagia.

     Begini ternyata dimulainya perselingkuhan itu. Reuni bukan saja dapat menyambung tali silaturahim tapi dapat menimbulkan lagi rasa lama yang tertinggal malah dapat membuat rasa baru dengan orang-orang lama. Sungguh dahsyat pertemuan itu.

     Pertemuan selanjutnya dengannya memang tidak ada dalam kamus tindakanku. Aku masih cukup waras untuk mengontrol emosiku. Mengorbankan cinta yang telah mengisi hari dan keluargaku tak sebanding dengan tingkah nakalku ini. Cukuplah hanya menjadi hembusan untuk kegerahan suasana hatiku sesaat.

     Diantara teman-teman lama yang datang, dia tidak pernah aku kenal sebelumnya. Keberadaannya dulu adalah teman yang hanya bisa dipandangi dari kejauhan. Aku tahu dia tapi dia tidak tahu adanya diriku. Setidaknya itu yang ada dalam benakku mengenai pertemanan kita.

     Kesalahan sepenuhnya adalah diriku sendiri. Harusnya aku tidak membiarkan hatiku menilai salah atas kebaikannya. Atas tatapan yang mungkin sama dia lakukan untuk semua temannya.

      Biarlah waktu yang akan membawa jauh rasa itu. Tetaplah dia menjadi orang asing yang hanya sekedar lewat di hadapanku. Terjatuh pada pandangan pertama ternyata begitu melenakan. Semoga Tuhan tetap menjagaku dari syaitan yang terkutuk yang akan merusak hidupku. The endlah. Kelar!



Sabtu, 31 Desember 2016

Eksistensi

Posted by cuap-cuap ratih on 21.43 with No comments
Sudah mau sebulan libur menulis status di facebook dan memang mau di tuntaskan sampai benar-benar satu bulan atau mungkin lebih. Tidak masalah, bebas sajakan?

Tidak ada alasan yang berarti, hanya saja merasa sudah pada puncaknya, tanpa sadar saya ini tipe yang baper. Alhamdulillah ternyata saya masih memakai perasaan saya sebagai perempuan. Disaat hati saya terusik masih bisa merasakan senang, kesal, sedih meski tidak jarang merasa tidak berdaya atas apa yang saya rasa karena tidak memahami apa yang sebenarnya dirasa.

Rasa ini telah lama sering di kesampingkan karena keadaan. Menjadi pribadi yang tangguh dan perkasa. Bila bersedih pantang untuk menangis, bila marah harus cepat dipadamkan, bila bahagia hanya dapat dirasakan sekejap saja.
Maka dari itu saya 'keep silence' atas ketidakberdayaan ini. Saya tidak memberikan kebaikan dari itu lebih baik diam saja. Berujung pada pengharapan ada tangan yang terjulur untuk sekedar menggenggam jemari yang terkulai lemas ini. Menghangatkan hati yang mulai membeku. Akan ada sapaan 'apa kabar?' Memberi cahaya mentari di tempat gelap ini.

Ternyata hal itu tidak terjadi. Baru menyadari ternyata tulisan itulah eksistensi diri. Tanpanya tidak ada yang merasakan kehilangan, tidak ada yang kurang, bahkan hanya untuk sekedar diingat. Dan tanpa tulisan hilanglah diri ini.

Tidak ada sejarah yang dicatat walaupun hanya berupa rasa sedih atau bahagia. Tulisan yang berupa status itu menceritakan kejadian yang terjadi didunia nyata, perasaan yang sedang dirasa, pikiran yang sedang tercipta dalam otak manusia, pujian, guyonan, hujatan, sindiran, atau mungkin hinaan.

Apapun itu tulisan menorehkan peristiwa yang bisa diambil manfaatnya, menjadi pelajaran bagi hal yang buruk dan dapat bertindak lebih baik lagi. Itulah hidup, pelajaran untuk saling memberi dan menerima tanpa menghakimi. Pada akhirnya kembali menulis di blog, inilah eksistensi.



Selasa, 06 Desember 2016

Adilkah?

Posted by cuap-cuap ratih on 20.04 with No comments
Sudahkah ada keadilan di Indonesia? Kalau iya berarti pak Ahok sudah ada dipenjara. Nyatanya belum, saya harus bertindak adil yang bagaimana?

Dia yang menyudutkan dengan pemberitaan bohong, saya dibilang ujub dan riya setelah memberitakan kebenaran..

Dia yang suka mencari-cari kesalahan, saya dibilang suka cari pembenaran..

Dia yang menuduh perbuatan makar, saya dibilang garis keras dan preman pasar..

Dia yang menebar perpecahan, saya yang berkumpul bersama saudara dibilang tidak nkri..

Cukup sudah!!

Islam itu membuat hatimu bergetarkan? Tapi itu mungkin getaran yang berbeda.
getaran apa itu? Cintakah? Takutkah? Sedihkah? Bahagiakah?

#adil itu proporsional bukan sama rata.
#dibilang menyakiti saudara yang membela penista agama? Mmm...
#mau dinilai apa terserah deh.
#disini saya berdiri.


Minggu, 04 Desember 2016

Posted by cuap-cuap ratih on 10.46 with No comments
Beneran deh.. yang dituntut itu memenjarakan penista agama saya. Bukan yang lain. Karena saya tidak rela Al quran dikatakan telah menjadi alat untuk membohongi  saya apalagi umat.

Begitu yakinnya saya atas kebenaran Al quran. Juga ratusan juta orang Indonesia, dan milyaran orang sedunia. Dan ternyata menurut kamu saya dibohongi? Haruskah saya percaya kamu?

Saya ini mungkin orang bodoh yang mudah tertipu dengan kata manis orang lain. Yang membuat saya rugi berulang kali, tapi saya masih bisa memaafkan dan merelakan. Materi bisa dicari lagi toh tidak akan saya bawa mati.

Harga diri, saya pun tidak ambil pusing. Saya manusia yang banyak salah dan bila saya salah, saya akan minta maaf, makanya harus terus belajar untuk memperbaiki diri. Semakin saya tahu, saya bertambah malu karena ternyata diri saya tidak banyak tahu.

Tapi menghina Al Quran sama saja menghina FirmanNya, juga menghina Tuhan yang saya akui ke-Esaannya. Saya apa? bukanlah siapa-siapa tanpa Tuhan saya. Kalau kata Tuhan,"kamu mati". Bisa lari kemana saya? Akankah saya masih hidup?

Katanya negara saya negara hukum, negara yang menjunjung demokrasi. Saya sebagai warga negara diperlakukan tidak adil. Mengapa menghina kitab agama saya? Kamu tidak percaya, bukanlah masalah saya.

Kamu boleh pintar, boleh keren, boleh tegas, boleh baik hati.. katanya walau kenyataan sering bicara kasar. Mikir nih.. memang tidak bisa berbicara yang baik? Bukan bertambah hormat hanya menambah miris didada. Bicara tegas bukan berarti bicara kasar.

Tahu tidak? kata-kata negatif dan kasar bisa memutuskan syaraf-syaraf di otak. Membekas seperti lubang dalam hati. Dan tidak akan mudah hilang.

Mengapa menghina?
Kalau kamu memang merasa bersalah, katakan,"maaf saya telah melampaui batas dan bila dipenjara adalah konsekuensi sesuai dengan hukum negara kita atas perbuatan yang telah saya lakukan, saya akan menerimanya."

Ah, lega hati saya. Bisakah kamu seperti itu?

#yakin bahwa akan ada pemimpin yang lebih baik ucapan dan kerjanya, perlu diberi kesempatan, sama dengan yang sebelumnya.
#sudah habiskah stock pemimpin di negri ini?

Sabtu, 26 November 2016

Siapa yang butuh ditolong?

Posted by cuap-cuap ratih on 20.11 with No comments
Sekarang sudah hari sabtu, lihat di youtube hari jumat kemarin Israel masih belum berhasil memadamkan api bahkan setelah Negara-negara tetangga juga turut membantu untuk memadamkannya. Dan dirasa tidak akan padam hanya dengan satu hari berlalu. Kebakaran hebat melanda Israel sehari setelah ada pelarangan azan dengan pengeras suara di masjid-masjid.

Hutan Kalimantan juga bisa membara karena sebab pembakaran hutan yang disengaja, sengaja dibakar loh!  Tapi menurut berita yang beredar api yang membakar Israel berasal dari punting rokok yang masih menyala dipinggir jalan. Whaatt? mungkinkah? Mungkin juga sih kalau putung rokoknya jatuh di tank minyak pom bensin, bukan dipinggir jalan.

Ya Allah kalau itu azab-Mu betapa dasyatnya!.  Di katakan bahwa api di dunia itu sepertujuhpuluh api neraka.  Tak bisakah melihat itu sebagai peringatan? Yang membuat lebih bermuhasabah dengan apa yang sudah dilakukan. Seperti bicara pada udara ini mah. Mereka tidak akan mendengarnya dan tidak akan mengerti. Biarlah.. itu urusan Israel, bisa memetik hikmahnya atau tidak.

Yang dilakukan oleh saudara-saudara muslim palestina, mereka mengumandangkan adzan dari atas atap-atap rumah mereka bersama-sama. Dan Allah mendengarnya..  Allah mendengarnya.. Allah mendengarnya!.. maka Allah kirimkan pasukannya menghanguskan Israel. Itu yang saya yakini.

Siapa yang butuh ditolong? Allah? Pasti kamu bercanda! Apa sih yang kita, manusia punya? Lahir saja tidak ada sehelai benangpun dan saat mati juga hanya dibungkus kain putih.

Kita itu hanya ingin diingat Allah bahwa kita itu hambanya yang patuh, yang membelaNya saat yang lain menghinaNya dengan malaikat-malaikat yang diutusNya, kitab yang berarti FirmanNya, Nabi pilihanNya, Hari akhir yang sudah ditetapkanNya dan Takdir-takdirNya. Yang berusaha menjadi umat terbaikNya. Mengerjakan perintah dan menjauhkan diri dari laranganNya. Gitu aja.


#Kalau merasa agamanya belum baik, yuk belajar lagi. Biar jadi umat terbaik.
#Bukan berarti udah baik loh.. tapi sadar saya yang butuh ditolong, karena saya hanyalah hamba.
#Bela aksi super damai. Semangattt hihihi

sumber gambar:http://sidomi.com/490937/


Kamis, 24 November 2016

Bukan Airmata untukmu

Posted by cuap-cuap ratih on 19.40 with No comments
Aku hanya akan mengingat senyummu.
Jangan beri aku airmata.
Aku tidak suka bersedih.

Sudah kukatakan terserah bagaimana akhir cerita itu. Tapi ternyata kau membuatnya menggantung dan tidak terselesaikan.

Terlebih bukan karena aku perduli akan dirimu. Bukan ceritamu yang membebaniku ternyata ceritaku sendiri yang belum aku tulis.

Penyesalan terdalamku adalah  belum memperlihatkannya padamu. Aku telah dikalahkan oleh waktu. Kau pergi meninggalkanku.