Jumat, 29 Januari 2016

ketika tidak ada ide

Posted by Unknown on 10.04 with No comments
Menulis pada awalnya semangat dan senang sekali seperti anak yang menemukan mainan baru. Bahkan menggebu-gebu yakin bisa menulis setiap hari. Padahal banyak juga pekerjaan lain yang harus dikerjakan. Menulis hanya mengisi waktu luang dan saat waktu luang terpangkas dengan pekerjaan pokok. Deng!!..  ngeblank alias kosong ga ada ide. Apalagi baru menulis beberapa kali, yaa saya ini maksudnya. Banyak orang yang bilang, mau jadi penulis juga harus banyak membaca. Oke membaca tapi membaca apa? Yang bagaimana? Apa saja yang harus dibaca? saya belum tau, makanya saya tanya.

Nah.. iseng-iseng saya membaca tulisan-tulisan yang ada di fb khususnya digrup “komunitas bisa menulis” tapi semakin ciut pikiran dan nyali saya karena tulisannya bagus-bagus. Diantara tulisan dan komentar yang ada, saya menemukan judul buku yang sepertinya saya harus baca. (Padahal dari tadi saya juga baca ya?)

Buku itu berjudul 101 dosa penulis pemula. Dasar penulis dadakan, saya juga ini maksudnya, yang menulis buku itu saja tidak tahu. Bersyukur masih ada koneksi internet akhirnya saya search engine istilah kerennya.

Saya klik lah yang judulnya “tips menulis (link Artikel) tidak boleh diKutak katik” oleh Isa Alamsyah yang juga penulis buku 101 dosa penulis pemula. Taraaa materinya banyak banget.. buaanyak seperti slogan toko sebelah. Saya mulai mangut-mangut sendiri, oo gituu. Tetep sih belum ada ide mau menulis apa, tapi sekarang saya sudah mulai membaca dan rezeki saya membaca tips-tips langsung dari Isa Alamsyah. Baca buku beliaunya menyusul.

Membaca bisa dari mana saja, siapa aja, kapan saja, apa saja karena intinya dengan membaca itu kita belajar, dari belajar bertambahlah ilmu kita. Bahkan bayipun membaca, tapi dengan mendengar.

Malas membaca? Masa kalah sama bayi.


#OnedayOnepost#hari 15

Kamis, 28 Januari 2016

Kerja sama yukkk

Posted by Unknown on 12.09 with 6 comments
Ceritanya saya dulu pernah ditanya seorang pemuda yang belum terlalu lama saya kenal. Di awali pada saat saya masih kuliah jurusan Ekonomi tingkat 3 yang juga sedang mengikuti kursus singkat mengenai perbankan shariah untuk menambah wawasan dan kapasitas kemampuan saya. Pemuda itu juga seorang mahasiswa dan berprofesi sebagai reporter lepas di kampusnya.  Ditugasilah dia untuk mencari berita dan disanalah kami bertemu.

Adalah wawancara yang dia lakukan termasuk saya sebagai peserta kursus dan herannya saya juga dimintai tolong untuk menulis artikel lepas, mengisi salah satu rubrik dalam koran kampusnya dengan tema bebas. Kami bertemu beberapa kali dengan tujuan membahas artikel yang saya tulis dan ulasan yang dia buat untuk koran kampusnya mengenai perbankan shariah. Juga saat membahas budidaya jamur tiram yang dilakukan oleh pemuda itu sebagai sampingan cari uang saku tambahan.

Sekali lagi kami bertemu, masih di tempat kursus saya. Dia menyerahkan koran kampusnya yang sudah terbit. Saya melihat, tulisan saya ada di koran itu walaupun masih sebatas koran kampus tapi sudah membuat saya senang sekali. Sebelum kami berpisah, dia sempat berkata dengan wajah dan sikap yang serius. Saya diam dan mendengarkan penjelasannya, “Ra, Aku mau serius sama kamu, kalau kamu juga serius, Kita kerja sama yuk?” Respon saya, masih diam, saya mencoba mencerna arti dari pembicaraannya. saya ni masih bodoh atau polos ya, kayaknya beda tipis karena saya tidak faham bagian “kita kerja sama yuk?”, kerja sama apa?  Kok kerja sama? dalam hati saya.

5 tahun yang lalu pertanyaan pemuda itu sudah saya jawab. Paling tidak, saya mengerti pada bagian keinginannya untuk serius dengan saya. Hari ini saya mendengar seorang psikolog yang sedang berdialog di tv, mengatakan pernikahan itu adalah suatu kerja sama. Karena tidak ada satupun didunia ini pasangan yang benar-benar cocok, yang ada adalah saling bekerja sama untuk menciptakan keluarga yang diinginkan. Maka carilah yang mau bekerja sama. Nah!... Barulah saya teringat pada pemuda yang pernah menanyakan hal ini kepada saya. Ooo Begitu maksud pembicaraannya dulu, ternyata lebih serius dari yang saya duga. Ternyata pemuda itu lebih dewasa pemikirannya dari saya.

Pernyataan itu menurut saya ada benarnya. orang tua saya juga turut membuktikan itu. Bertengkar? pastinya, Sering? Iya juga, kadang kecil kadang besar. Apakah mereka cocok? Tidak tahu tapi akhirnya mereka tetap bersama selama 37 tahun sampai ajal memisahkan keduanya. Ibu saya telah menghadap Allah terlebih dahulu empat tahun yang lalu. Tapi kalau dikatakan tidak cocok, apa namanya?

#yukkk #hehehehe..

#OnedayOnepost#Hari 14

Rabu, 27 Januari 2016

Hilangnya Respect

Posted by Unknown on 16.39 with No comments
Lebay ga sih kalau marah sama orang yang sudah meminjam motor kita beberapa hari lalu dikembalikan dalam kondisi bensin sudah mencapai garis merah alias empty dan ban kurang angin?

Adalah “saudara ketemu gede” dari kenalannya orang tua yang tinggal di luar pulau. Jauh-jauh dia datang karena ada beberapa urusan yang harus diurus, sehingga membuatnya membutuhkan kendaraan untuk mondar-mandir selama beberapa hari. Kebetulan ada motor yang sedang tidak digunakan, yang kemudian dia pinjam. Jarak rumah cukup jauh karena dia sementara tinggal dengan saudara yang lain.

Beberapa hari sudah lewat dan motor pun diantar. Tentu megucapkan terimakasih dan mengembalikan motor beserta suratnya. Tidak ada yang aneh dengan motor itu, persis sama seperti saat dipinjam.

Hanya saat motor akan digunakan, tidak lama setelah dikembalikan ternyata kondisi bensin sudah mencapai garis merah dan bannya kempes sekali karena kurang angin. Hilang sudah Respect saya. Mungkin saya berlebihan dengan mengatakan sudah tidak respect lagi dengan orang itu. Mungkin ini hal yang sepele, karena ada teman saya mengatakan “tapi masih bisa jalankan?” iya memang masih bisa jalan, sampai ke pom bensin dan beruntung ada tukang tambal ban di dekatnya sehingga bisa tambah angin sekalian.

Hidup bermasyarakat itu penuh etika. Hidup tidak bisa sendiri. Pergesekan pasti akan terjadi karena setiap manusia punya nilainya tersendiri. Tidak ada tulisan baku mengenai ini. Hanya aturan tidak tertulis untuk saling menghargai dan menghormati kepada sesama hingga tercipta kerukunan. Saya menganggap orang tersebut tidak menghargai, bukan karena ingin bensin di isi penuh tapi kalau dia menghargai, tentunya tidak mungkin motor itu dikembalikan dengan kondisi kosong, minimal sama kondisinya seperti saat dia pinjam. Dia akan memikirkan saya ketika motor itu akan digunakan kembali, sebagai ungkapan terimakasih dari dalam hati, bukan hanya di bibir saja. Menambah kerjaan saya yang harus mengisi bensin dan tambah angin ban motor.@-@

Hargai dan hormati orang lain maka orang lain juga akan meghargai dan menghormatimu.

#Onedayonepost#H13

#maaflagikesel#yangpentingnge-post:P

Ngenes aja

Posted by Unknown on 15.35 with 2 comments
Terdengar suara teriakan dan gerungan motor dari arah Luar rumah, teriakannya seperti memanggil manggil seseorang. Aku yang berada di dalam rumah terkejut mendengar teriakan itu. Bergegaslah aku keluar rumah untuk megetahui apa yang terjadi.

 Tengok kanan kiri bahkan aku tidak melihat ada orang lain selain aku.  Bertambah bingung dari mana suara itu. Tidak lama kemudian ada seseorang mengendarai motor kearahku, aku tahu dia seorang tukang ojek yang biasa mangkal di ujung gang rumah. Aku bertanya kepadanya jikalau dia juga mendengar ada suara anak yang berteriak. Tapi dia bilang tidak tahu.

 Tiba-tiba dari pertigaan dekat rumah, aku melihat dua orang anak laki-laki mungkin kelas 3 atau 4 SD berjalan melewatiku. Karena masih penasaran aku juga bertanya pada mereka mengenai suara teriakan yang memanggil itu. Kedua anak itu berjalan perlahan namun wajahnya tampak memerah entah karena panasnya matahari atau apa. Akhirnya baru ku ketahui salah satu anak itu kejambretan, handphone yang di bawanya di ambil orang yang mengendarai motor.

Rumahku itu terletak di sebuah komplek tua, karena tidak seperti komplek lainnya. Komplek rumahku tidak punya satpam yang berjaga 24 jam di gerbang depannya bahkan masih bersebelahan dengan rumah perkampungan jadi siapapun bisa keluar masuk tanpa ada pengawasan. Posisi rumahku pun agak ke sudut tapi banyak yang melewatinya karena di seberang sungai kecil tidak jauh dari rumah ada sekolah dasar negeri yang aktif dari pagi hingga sore harinya.

Entah apa sudah diperhatikan sebelumnya atau memang ada kesempatan, penjambret dengan mudah melancarkan tindakannya. kejadiannya terjadi saat menjelang jam 3 sore. Suasana yang sepi dan bahkan saat si anak berteriak tidak ada orang dewasa yang keluar, aku sendiri pun merasa terlambat menanggapi teriakan itu. Nasi sudah menjadi bubur, musibah itu sudah terjadi. Kedua anak tersebut jalan dengan gontainya.

Saya turut merasa prihatin, tentunya merupakan pengalaman yang menyedihkan buat anak itu. Sudah kehilangan barangnya, dan membawa guncangan pada jiwanya. Karena nanti sampai di rumah, dia akan menghadapi orang tua, yang tidak tahu akan seperti apa responnya. Ngenes ga sih?

Masihkah dilema mengizinkan anak membawa handphone ke sekolah?

 #OnedayOnepost#H12
#ngenesan yang mana?
 pinjem gambar ya..



Senin, 25 Januari 2016

Dunia baruku

Posted by Unknown on 17.57 with 2 comments
Menulis adalah dunia yang baru untukku. Aku begitu menyukainya sehingga tidak terasa bagiku, ada perubahan-perubahan kecil yang jadi sering aku lakukan.

Saat membaca tabloid masakan, bukan isinya yang kuperhatikan tetapi headline utamanya “bekal lezat variatif”. Aku ingin menulis sesuatu dengan judul ini.
Saat makan di luar bersama keluarga, melihat menu ada “paket ayam penyet”. Aku juga ingin menulis sesuatu dengan judul ini.
Saat mendengar lirik lagu yang keluar dari hpnya si supir angkot, jadi ingin menulis sesuatu dengan tema ini.
Saat melihat kucing berebut makanan, jadi ingin menulis sesuatu tentang kucing.

Aku jadi memperhatikan hal-hal kecil, sampai rumput tetanggapun jadi perhatianku. Dulu sih lewat-lewat aja. Kecuali abang tukang bakso yang lewat, ku panggil dia bukan hanya di perhatikan.
Aku juga jadi perasa tapi bukan baper (bawa perasaan) kalau bawaan laper sih sering, gimana dong bawaan perut nagaan udah bukan cacing lagi.  

“Perubahan”, kalau cari di kamus Bahasa Indonesia, kata ini mengakar pada kata “ubah” mendapat imbuhan per-an menjadi perubahan yaitu 1 hal (keadaan) berubah;peralihan;pertukaran.
 Apakah sesuatu yang baik? Sesuatu yang buruk? Karena ini bukan kuis, tidak usah dijawab. Tidak berhadiah pula.

Aku berubah!! Bukan untuk sesuatu yang besar, hanya perubahan kecil. Harapanku perubahan kecil dan mungkin sederhana ini akan membawaku menjadi sukses. Seperti Thomas Alva Eddison yang memutuskan untuk mengubah dan memperbaiki eksperimennya sehingga pada saat mencoba yang ke dua ribu kalinya dapat sukses menciptakan lampu pijar yang bisa kita rasakan perkembangannya hingga hari ini. Aku pun akan terus bereksperimen mencocokkan kata demi kata, kalimat demi kalimat memasukkan rasa dalam tulisanku, walau kadang hilang ditengah jalan, entah kemana mau dicarinya dan akhirnya bisa sukses. Aamiin.

#OnedayOnepost#hari kesebelas
#Practise makes perfect#MajuTerusPantangMundur!Merdeka