Rabu, 24 Agustus 2016

Full Day School?

Posted by ratih honey on 08.22 with No comments
Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya kegiatan membaca merupakan salah satu kendala. Bukan karena tidak bisa membaca, bukan karena harga bukunya, Bukan karena bukunya tidak menarik dan penuh manfaat, tetapi rasa malas dan mungkin karena faktor tidak biasa.

Buku adalah Jendela Dunia. Pengakuan Agus R. Sarjono sebagai penulis terkemuka di Indonesia saat kejenuhannya sebagai penjaga toko memperkenalkannya pada keisengan membaca buku membawanya berlibur ke negara-negara lain seperti afrika, ia menelusuri belantara dan hidup di desa-desa pedalaman afrika lewat novel Himunyanga-Phiri berjudul warisan, mengelilingi mesir menikmati karakter orang-orang mesir dan peradabannya dalam tulisan Naquib Mahfouz pada novel Lorong Midaq, Balkan, Yunani dan Tiongkok di tiga negara itu ia mampir sebentar dengan pengembaraannya lewat cerpen yang ditulis Marquerite Yourcenar, berhari-hari di Rusia lewat novel Perang dan Damai belajar arti Nasionalisme sebuah negara (Buku Aku bisa menulis fiksi oleh Joni Ariadinata).

Wacana Full day school menjadi pembicaraan yang pro dan kontra. Entah dengan dasar apa bapak mentri melontarkan program ini. Full day school sudah banyak di pakai oleh sekolah swasta diperkotaan. Alasan orang tua memasukkan anaknya di sekolah itu juga beragam diantaranya, selain sekolah mengajarkan akademik juga mengajarkan agama dengan porsi yang lebih banyak sehingga orang tua merasa lengkap untuk pendidikan anak mereka, ada juga yang beralasan sekalian “menitipkan anak” sehingga orang tua bisa tenang untuk pergi bekerja. Namun apakah program tersebut dapat di terapkan untuk semua sekolah terutama sekolah negri masih menjadi perdebatan.

Mengapa tidak kita mulai saja dengan program mudah dan ringan seperti membudayakan membaca. Negara-negara yang maju merupakan negara yang tingkat membacanya tinggi. Bisa dipahami dengan banyak membaca tentu akan menambah pengetahuan dan ilmu. Ada semacam kolerasi disana.

Dengan Negara kepulauan seperti Indonesia jangankan untuk full day school, pendidikan dasarpun belum tentu merata. Memperbanyak Infrastruktur sekolah dan memfasilitasi pembelajaran. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM tenaga pengajar mungkin sangat diperlukan. Meskipun belajar tidak harus di sekolah. Mendapatkan kesempatan pendidikan harus menjadi hak setiap warga negara.  Tak perlu rasanya perubahan yang kontroversial tetapi tidak menyentuh perbaikan pada pendidikan di Indonesia. Lebih baik meningkatkan qualitas yang ada tapi berdampak besar atas manfaat yang di dapat Masyarakat.

Dengan membaca tidak hanya bertambah pengetahuan dan pengalaman namun dapat membuka wawasan dan pemikiran. Mungkin dari sana akan tumbuh generasi yang lebih baik. Dapat mengembangkan Indonesia sesuai dengan karakteristik Indonesia.

Banyak Program yang bisa dilakukan. Membaca dimulai dari yang mudah dan menyenangkan, membaca komik, buku cerita, cerpen, novel. Disana juga banyak ilmu yang dapat diambil minimal ada hikmahnya. Atau ada yang membaca buku memasak, traveling, kerajinan tangan, peternakan, pertanian sebut saja semua ada. Inshaallah.


Mudahkan? Perbanyak buku dan sebarkan ke seluruh Indonesia, agar generasi kita menyukai dan mulai membaca buku.  Mulai dari diri sendiri, sudah membaca bukukah hari ini?

0 komentar:

Posting Komentar