Sabtu, 16 Juli 2016

Ibu Tangguh

Posted by Unknown on 06.06 with 3 comments
Tidak banyak teman yang benar-benar saya tahu mengenai kehidupan pribadinya. Namanya juga kehidupan pribadi tidak semua juga ingin orang lain mengetahuinya. Namun pagi ini salah satu teman lama yang sampai sekarang masih suka bertukar kabar menghubungi melalui salah satu media sosial, hanya ingin menjadikan saya teman ceritanya.  Dia mengabarkan bahwa suaminya akan menikah lagi dua bulan kedepan. Dan dengan hati-hati saya bertanya apakah di poligami atau di cerai? Ternyata mereka baru saja bercerai dan surat-suratnya pun sudah dikeluarkan oleh pengadilan agama.

Mungkin perpisahan itu sesuatu yang sudah tidak bisa dihindari lagi dan dapat terjadi kepada siapapun. Kehidupan berumah tangga yang dijalani bersama terkadang tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Satu pihak sudah berupaya dan berusaha menyesuaikan diri namun belum tentu pihak pasangan memiliki niat dan pemikiran yang sama bukan? Dan tidak bisa dipaksakan.

Saya jadi kepikiran apa yang akan dilakukannya setelah bercerai. sudah tentu perceraian bukanlah sesuatu yang direncanakan, karena awal menikahpun niatnya adalah niat baik untuk hidup bersama berbagi kasih dan sayang.

Yang saya tahu dia seorang ibu rumah tangga yang sebagian waktunya mengurus ke empat anak yang kesemuanya perempuan dengan usia anak paling besar 13 tahun dan yang paling kecil 4 tahun. Dan ternyata kegalauan mengenai nafkahlah yang lebih mendominasi perasaan dan pikirannya saat ini. Bagaimana dengan kebutuhan anak-anak yang masih kecil-kecil, biaya sekolah dan sebagainya.

Bagi yang mengalami, untuk menghadapi perceraian saja merupakan hal yang sudah cukup berat terutama saat menjelaskannya pada anak-anak. Bahwa kehidupan pernikahan orang tuanya sudah berakhir, ayahnya akan menikah lagi dan mungkin akan sangat jarang melihat ayahnya di masa yang akan datang. Belum lagi pandangan lingkungan yang mungkin akan ada banyak gunjingan dan pembicaraan. Hidup sendiri sebagai janda membesarkan empat orang anak. Apalagi ditambah urusan nafkah ini bukan hal yang mudah. Apa boleh buat semua itu harus tetap dilalui karena bagaimanapun hidup harus move on.

Yang harus diketahui adalah ternyata tetap menjadi kewajiban ayah atau mantan suami menafkahkan anak-anaknya. Hey.. tidak ada yang namanya mantan anak, mantan ayah atau mantan ibu. Mereka dihubungkan dengan darah yang kental dan merupakan dosa bila seorang ayah menyia-nyiakan orang-orang yang wajib dia nafkahi. Nafkah yang cukup tentunya, bukan hanya memberi untuk menggugurkan kewajiban. Setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan. Juga nafkah kepada istri dalam 3 bulan masa iddahnya. Jadi ini merupakan hal penting yang harus dibicarakan. Hak seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya untuk memintakan kewajiban mantan suaminya itu terhadap anak-anak, bukan berarti wanita itu materialistis tapi dia realistis dan faham haknya.

           Seorang ibu rumah tangga yang tidak pernah terlibat langsung untuk mencari nafkah seperti teman saya itu tentunya bingung apa yang akan dilakukannya setelah perceraian. Peristiwa ini memberikan banyak pelajaran juga buat saya. Banyak yang harus dipikirkan oleh seorang single parent. Ada masa 3 bulan sebelum teman saya benar-benar harus mandiri secara pribadi dan ekonomi.

            Tidak ada keluarga yang menginginkan terjadinya perceraian. Namun apakah kita juga harus tetap siap dari awal pernikahan bila peristiwa itu terjadi? Itu yang ada dalam benak saya. Bukankah kita harus selalu optimis dengan kehidupan perkawinan kita agar terus terjaga hingga akhir dan dipisahkan oleh maut.

Saat berkesepakatan mengenai perceraian, mantan suami berjanji untuk terus menafkahi anak-anak. Namun apa yang akan terjadi bila ternyata janji tinggallah janji? Apa yang bisa dilakukannya kemudian? Tentu saja dia harus bekerja, tapi bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil yang membutuhkan pengawasannya sedangkan dia pun tidak bisa mengandalkan keluarga besarnya seperti orang tuanya yang sudah udzur untuk membantu menjaga. Tidak memiliki sanak saudara yang bisa dimintai tolong, karena mereka juga memiliki kondisinya masing-masing. Tidak mampu membayar pengasuh yang sedangkan dia sendiri kesulitan ekonomi. Bagaimana bila hal-hal itu semua terjadi? Apa saya terlalu membayangkan hal yang buruk? well.. selalu prepared  for the worst alias kondisi yang paling pahit.

beberapa hal yang dapat diambil sebagai hikmahnya, pertama perceraian adalah masa lalu, hidup harus terus berjalan, cukup menjadikan pemicu perceraian sebagai pelajaran hingga kedepannya tidak terulang. Setelah perceraian merupakan titik kehidupan yang baru. Mungkin sebelumnya kehidupan pernikahan tidak memberikan kebahagian yang didambakan, saatnya mencari kebahagian yang baru, kehidupan pernikahan yang baru. Kenapa tidak? hak azasi manusia untuk merasa bahagia bukan?

Kedua terkait dengan anak. Mereka adalah korban, genggamlah tangan mereka jadikan mereka kekuatan dan menjadikan mereka kuat. Berdamai dengan mantan untuk urusan memberikan kasih sayang. Kewajiban orang tuanya untuk tetap menjaga dan mengasuh sehingga mereka mampu berdiri sendiri, walaupun orang tua tidak lagi bersama.

Ketiga bahwa ibu rumah tangga itu harus pintar dan tangguh dalam arti kata pintar akalnya juga pintar menata hatinya. Jadi berpendidikan tinggi itu perlu. Apalagi bila memiliki Iketrampilan yang dapat dijadikan sumber pendapatan bila memang dibutuhkan. ibu rumah tangga dapat menghadapi segala macam permasalahan. Bahwa ibu rumah tangga memiliki keyakinan dapat berdiri diatas kakinya sendiri memberikan izzah atau penghargaan untuk diri sendiri, Memberinya kekuatan untuk tetap tegar demi anak-anaknya. Berpikiran positif dan mampu bangkit dari masalah yang menerpa. Sehingga kesedihan tidak membuatnya berlarut meratapi nasib dan menyesal berkepanjangan.

Keempat, hal yang ada di benak saya ini mungkin bisa menjadi solusi, bahwa ibu rumah tangga minimal memiliki tabungan. Lebih baik lagi bila tabungannya itu adalah asset yang produktif. Tanah, bangunan atau mobil yang dapat disewakan merupakan salah satu contoh asset yang produktif. Tidak ada ruginya memiliki tabungan. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak dapat menambah penghasilan. Ibu rumah tangga mungkin "tidak bekerja" karena asetnya yang bekerja untuknya. Mungkin itulah yang harus dipersiapkan dari awal pernikahan. Sedikit ataupun banyak tabungan itu tidak ada standar khusus, yang terpenting sudah dipersiapkan. Seorang ibu minimal punya sedikit pengetahuan untuk mengelola keuangan dalam rumah tangganya.

Namun bila kondisi diatas belum dipersiapkan karena jangankan untuk memiliki tabungan, dalam kehidupan pernikahan yang lalu saja, uang yang ada selalu habis untuk segala kebutuhan. Atau mungkin inilah yang menjadi dasar perceraian maka yang perlu dilakukan adalah banyak berdoa. Selalu ada Allah yang dapat menjadi tempat bersandar. Jalan keluarnya mungkin dari arah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Itulah kuasa Allah bila Ia katakan terjadi maka terjadilah. Berprasangka baik akan membawa aura kebaikan dan pikiran yang positif. Percayalah Allah mengabulkan segala doa hambanya. Tetap berikhtiar atau berusaha dengan kondisi yang ada. Melakukan pekerjaan yang halal, memulai usaha kecil-kecilan di rumah lebih baik daripada hanya berpaku tangan dan merenungi nasib yang tidak akan berubah bila tidak diusahakan untuk berubah.

Saya berharap, support yang saya berikan dapat menambahan kekuatan untuknya, walau hanya sedikit meringankan kegelisahan dan meringankan beban dihatinya. Hakikat teman bagi saya adalah teman yang memberikan manfaat atau teman yang memberikan pelajaran dan saya ingin menjadi teman yang memberikan manfaat walau hanya sedikit. Saya bangga terhadap teman saya itu meski harus mengambil keputusan yang sulit tapi dia tidak menghindari dan lari dari kenyataan. Ditengah ketidakberdayaannya dia tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya yaitu tetap berpikiran positif dan kuat berpegang teguh kepada keyakinan semua akan berlalu dan akan berjalan dengan baik. Demikianlah.





                                                                            

3 komentar:

  1. Menarik sekali tulisannya kak, semoga dimudahkan segala urusan . Aamiin ☺

    BalasHapus
  2. Aamiin.. semoga bisa diambil hikmahnya juga :)

    BalasHapus
  3. Aamiin.. semoga bisa diambil hikmahnya juga :)

    BalasHapus