Selasa, 06 Desember 2016

Adilkah?

Posted by cuap-cuap ratih on 20.04 with No comments
Sudahkah ada keadilan di Indonesia? Kalau iya berarti pak Ahok sudah ada dipenjara. Nyatanya belum, saya harus bertindak adil yang bagaimana?

Dia yang menyudutkan dengan pemberitaan bohong, saya dibilang ujub dan riya setelah memberitakan kebenaran..

Dia yang suka mencari-cari kesalahan, saya dibilang suka cari pembenaran..

Dia yang menuduh perbuatan makar, saya dibilang garis keras dan preman pasar..

Dia yang menebar perpecahan, saya yang berkumpul bersama saudara dibilang tidak nkri..

Cukup sudah!!

Islam itu membuat hatimu bergetarkan? Tapi itu mungkin getaran yang berbeda.
getaran apa itu? Cintakah? Takutkah? Sedihkah? Bahagiakah?

#adil itu proporsional bukan sama rata.
#dibilang menyakiti saudara yang membela penista agama? Mmm...
#mau dinilai apa terserah deh.
#disini saya berdiri.


Minggu, 04 Desember 2016

Posted by cuap-cuap ratih on 10.46 with No comments
Beneran deh.. yang dituntut itu memenjarakan penista agama saya. Bukan yang lain. Karena saya tidak rela Al quran dikatakan telah menjadi alat untuk membohongi  saya apalagi umat.

Begitu yakinnya saya atas kebenaran Al quran. Juga ratusan juta orang Indonesia, dan milyaran orang sedunia. Dan ternyata menurut kamu saya dibohongi? Haruskah saya percaya kamu?

Saya ini mungkin orang bodoh yang mudah tertipu dengan kata manis orang lain. Yang membuat saya rugi berulang kali, tapi saya masih bisa memaafkan dan merelakan. Materi bisa dicari lagi toh tidak akan saya bawa mati.

Harga diri, saya pun tidak ambil pusing. Saya manusia yang banyak salah dan bila saya salah, saya akan minta maaf, makanya harus terus belajar untuk memperbaiki diri. Semakin saya tahu, saya bertambah malu karena ternyata diri saya tidak banyak tahu.

Tapi menghina Al Quran sama saja menghina FirmanNya, juga menghina Tuhan yang saya akui ke-Esaannya. Saya apa? bukanlah siapa-siapa tanpa Tuhan saya. Kalau kata Tuhan,"kamu mati". Bisa lari kemana saya? Akankah saya masih hidup?

Katanya negara saya negara hukum, negara yang menjunjung demokrasi. Saya sebagai warga negara diperlakukan tidak adil. Mengapa menghina kitab agama saya? Kamu tidak percaya, bukanlah masalah saya.

Kamu boleh pintar, boleh keren, boleh tegas, boleh baik hati.. katanya walau kenyataan sering bicara kasar. Mikir nih.. memang tidak bisa berbicara yang baik? Bukan bertambah hormat hanya menambah miris didada. Bicara tegas bukan berarti bicara kasar.

Tahu tidak? kata-kata negatif dan kasar bisa memutuskan syaraf-syaraf di otak. Membekas seperti lubang dalam hati. Dan tidak akan mudah hilang.

Mengapa menghina?
Kalau kamu memang merasa bersalah, katakan,"maaf saya telah melampaui batas dan bila dipenjara adalah konsekuensi sesuai dengan hukum negara kita atas perbuatan yang telah saya lakukan, saya akan menerimanya."

Ah, lega hati saya. Bisakah kamu seperti itu?

#yakin bahwa akan ada pemimpin yang lebih baik ucapan dan kerjanya, perlu diberi kesempatan, sama dengan yang sebelumnya.
#sudah habiskah stock pemimpin di negri ini?

Sabtu, 26 November 2016

Siapa yang butuh ditolong?

Posted by cuap-cuap ratih on 20.11 with No comments
Sekarang sudah hari sabtu, lihat di youtube hari jumat kemarin Israel masih belum berhasil memadamkan api bahkan setelah Negara-negara tetangga juga turut membantu untuk memadamkannya. Dan dirasa tidak akan padam hanya dengan satu hari berlalu. Kebakaran hebat melanda Israel sehari setelah ada pelarangan azan dengan pengeras suara di masjid-masjid.

Hutan Kalimantan juga bisa membara karena sebab pembakaran hutan yang disengaja, sengaja dibakar loh!  Tapi menurut berita yang beredar api yang membakar Israel berasal dari punting rokok yang masih menyala dipinggir jalan. Whaatt? mungkinkah? Mungkin juga sih kalau putung rokoknya jatuh di tank minyak pom bensin, bukan dipinggir jalan.

Ya Allah kalau itu azab-Mu betapa dasyatnya!.  Di katakan bahwa api di dunia itu sepertujuhpuluh api neraka.  Tak bisakah melihat itu sebagai peringatan? Yang membuat lebih bermuhasabah dengan apa yang sudah dilakukan. Seperti bicara pada udara ini mah. Mereka tidak akan mendengarnya dan tidak akan mengerti. Biarlah.. itu urusan Israel, bisa memetik hikmahnya atau tidak.

Yang dilakukan oleh saudara-saudara muslim palestina, mereka mengumandangkan adzan dari atas atap-atap rumah mereka bersama-sama. Dan Allah mendengarnya..  Allah mendengarnya.. Allah mendengarnya!.. maka Allah kirimkan pasukannya menghanguskan Israel. Itu yang saya yakini.

Siapa yang butuh ditolong? Allah? Pasti kamu bercanda! Apa sih yang kita, manusia punya? Lahir saja tidak ada sehelai benangpun dan saat mati juga hanya dibungkus kain putih.

Kita itu hanya ingin diingat Allah bahwa kita itu hambanya yang patuh, yang membelaNya saat yang lain menghinaNya dengan malaikat-malaikat yang diutusNya, kitab yang berarti FirmanNya, Nabi pilihanNya, Hari akhir yang sudah ditetapkanNya dan Takdir-takdirNya. Yang berusaha menjadi umat terbaikNya. Mengerjakan perintah dan menjauhkan diri dari laranganNya. Gitu aja.


#Kalau merasa agamanya belum baik, yuk belajar lagi. Biar jadi umat terbaik.
#Bukan berarti udah baik loh.. tapi sadar saya yang butuh ditolong, karena saya hanyalah hamba.
#Bela aksi super damai. Semangattt hihihi

sumber gambar:http://sidomi.com/490937/


Kamis, 24 November 2016

Bukan Airmata untukmu

Posted by cuap-cuap ratih on 19.40 with No comments
Aku hanya akan mengingat senyummu.
Jangan beri aku airmata.
Aku tidak suka bersedih.

Sudah kukatakan terserah bagaimana akhir cerita itu. Tapi ternyata kau membuatnya menggantung dan tidak terselesaikan.

Terlebih bukan karena aku perduli akan dirimu. Bukan ceritamu yang membebaniku ternyata ceritaku sendiri yang belum aku tulis.

Penyesalan terdalamku adalah  belum memperlihatkannya padamu. Aku telah dikalahkan oleh waktu. Kau pergi meninggalkanku.

Kamis, 10 November 2016

Toleransi

Posted by cuap-cuap ratih on 05.04 with No comments
Di komplek rumah, punya tetangga yang pagarnya dibuat maju beberapa senti
lalu kalau buka pintu pagar itu selebar-lebarnya nutupin garasi rumah emak atau lupa nutup kali ya?! Bersangka baik ajalah yaa..

Alhasil emak susah mau masuk, minimal kudu turun dari kendaraan trus nutupin kembali pintu pagar itu balik ke tempat semula. Baru emak bisa masuk ke garasi.

Seandainya my tetangga itu memposisikan dirinya sebagai emak dia keberatan ga ya? Nutupin pintu pager sebelah dulu trus baru bukan pintu pager sendiri.

Kadang itu sangat mengganggu apalagi kalau lagi mengejar waktu. Kasian amat ya waktu dikejar mulu.

Jadi ngomongin toleransi, ni gara-gara baca headline berita di internet seseorang mempertanyakan "kenapa Pak Ahok tidak boleh menjadi Gubernur, apa karena dia matanya sipit, agamanya non muslim, apakah itu Indonesia?"

Lucu! bagi emak kelihatannya orang yang bertanya ini seperti sedang merajuk.  Hihihi..

Pingin jawabin gini "saya orang Indonesia, namun agama saya menyuruh untuk memilih pemimpin yang seiman, ga ada urusannya mau mata sipit, mata belok, mau kulit putih, kuning, coklat, hitam. Apakah ini membuat saya bukan Indonesia?"

Dan kalau nih mayoritas penduduk jakarta itu sama agamanya dengan saya, trus perintah agamanya kan sama, untuk mengangkat pemimpin yang seagama, apakah mau dipaksakan yang pada kenyataannya Pa Ahok memang tidak seiman.

Jangan karena toleransi, lalu melanggar apa yang diperintahkan agama. Itu namanya kebablasan. Apakah agama hanya tulisan di KTP? Entahlah..

Yang tidak bisa difahami adalah mengapa dengan saudaranya sendiri juga tidak bertoleransi dengan memahami apa yang mereka yakini.

Pa Ahok saudaramu, kami juga saudaramu kan sama-sama orang Indonesia maksudnya. Keyakinan kami bukanlah hal yang melanggar hukum negara? Ya kan?

Lalu kenapa kami harus dipaksakan menerima Pa Ahok untuk memimpin? Pa Ahoknya aja ga maksa... katanyaaa. Deee boleh nye sewot.

Tambah lagi dia sudah menistakan Al quran, masih mau pilih? Dimana hati nurani?








Senin, 03 Oktober 2016

To Remember Him

Posted by cuap-cuap ratih on 01.13 with No comments
Tubes taste is called memories, Is in the hearts. 
will remain  there, Whatever feels. 
So is the memory of a person.

Transitory nature will make people disappear from this earth,
but a sense of presence will remain in the memories attached.

Why be sad just because of the distance stretches. 
Distance which always connects the memory, makes it so valuable.

Losing would declare its existence is a valuable thing ever.
Goodness will not be disappeared in time and time made so worked up in the soul.

Jumat, 26 Agustus 2016

Kerja -kerja

Posted by cuap-cuap ratih on 15.04 with No comments
Aku mungkin salah satunya, selalu ingin semua perkerjaan dilakukan pada waktu yang sempurna dan hasil yang terbaik. Nyatanya malah terkadang menunda dan keteteran yang pada akhirnya, pekerjaan selesai tapi tidak maksimal bahkan pekerjaan tidak selesai karena waktu sudah habis, ketemu dengan deadline.

Quote yang satu ini benar-benar menampar dan semakin aku baca semakin masuk dalam pikiran.
DONE IS BETTER THAN PERFECT artinya Lebih baik “selesai” daripada (menunggu sampai) “sempurna”

Nah berasa tidak tuh, kalau buat aku berasa banget. Tugas-tugas selama ini menunggu mood atau menunggu hilang rasa malasnya menjadi mungkin untuk dikerjakan, sekarang!! Sudah tidak ada alasan yang terpenting sudah dikerjakan dan kesempurnaan itu belakangan.

Misalnya target hari ini kelar baca satu buku yang tebalnya 130an lembar maka aku akan membaca walaupun masih kepikiran belum melakukan hal yang lain, dan berusaha membacanya dengan cepat dan penuh konsentrasi biar tidak diulang-ulang membacanya. Setelah itu baru mengerjakan pekerjaan yang sudah waiting list mau aku kerjakan. Makanya aku juga harus meluangkan sedikit waktu untuk memilah pekerjaan yang sekiranya aku bisa selesaikan dengan cepat ataupun sesuai target yang aku ingin capai. Belajar mengatur diri sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi?

Tidak mudah pada awalnya, dan sekarangpun masih sering tergoda untuk menunggu mood atau rasa malas yang membelenggu. Aku harus meruntuhkan mental blockku bila ingin berhasil. Mumpung masih semangat dan semoga terus semangat.

Terkadang mengapa aku bisa begitu menunggu mood atau malas melakukan sesuatu? Itu juga yang menjadi pertanyaan pada diriku sendiri. Setelah merenungkannya, aku menyadari diri ini kurang mendapatkan penghargaan atas usaha yang sudah aku lakukan. Mungkin juga karena aku sendiri belum melakukan sesuatu yang berefek besar. Namun penghargaan ternyata merupakan suatu kebutuhan buat aku. Diberikan dukungan dan semangat membuat aku merasa lebih berarti. Apa yang sudah aku usahakan itu ada manfaatnya. Dan hal itu membuat aku lupa dengan kemalasan dan segera bekerja.

            Dr.Adi W. Gunawan, CCH seorang pakar mind technology mengatakan ada dua hal penting  yaitu pertama, apa pun kondisi kita saat ini, pasti dipengaruhi oleh masa kecil. Kedua, apapun kondisi saat ini, bila kita sungguh-sungguh ingin berubah, tahu caranya, dan melakukan upaya gigih, kita pasti bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Aku jadi lebih tahu apa kelemahan dan masih terus menggali apa lagi yang menjadi kekuatanku. Setiap orang akan memiliki sejarah yang berbeda dan hanya dia saja yang mengetahui apa yang terjadi pada masa kecilnya dan masih membekas hingga dewasa kini. Tentunya bila hal itu baik tidak akan ada masalah, yang pasti karena hal itu menjadi sifat yang buruk maka kita harus berusaha mencari akar penyebab sifat buruk yang kita miliki. Dan berusaha mengubahnya.

Dalam rangka memberikan semangat dan dukungan untuk diriku, Aku akan berusaha lebih baik lagi, apapun tanggapan yang diberikan baik yang positif ataupun negatif. Jadi sekarang aku ingin menjadi orang yang lebih terbuka dan memiliki pikiran yang positif. Tidak lagi menuntut orang untuk menghargai dan menghormatiku, tapi dengan aku yang lebih dulu memberikan orang lain dukungan dan semangat. Dan aku percaya hal baik yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri.

         Saat ini berusaha mengatur pekerjaan jadi lebih baik lagi, berusaha menetapkan tujuan atau target, sehingga waktu pengerjaan jelas, kerja juga tidak melebar kemana-mana yang akan membuat aku jadi bosan dan akhirnya malas apalagi menuruti mood alias suasana hati jadi baik dulu baru kerja.

Di katakan “Maka bila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” (QS. Al insyira) artinya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Betul sekali, tidak cukup rasanya sehari itu duapuluh empat jam dan bila satu pekerjaan saja tidak bisa kita selesaikan bagaimana dengan pekerjaan yang lain. Karena malas dan masih menunggu mood yang ada pekerjaan kita menumpuk dan membuat kita jadi stress.


Demikianlah semoga bertambah semangat dalam bekerja.

Rabu, 24 Agustus 2016

Full Day School?

Posted by cuap-cuap ratih on 08.22 with No comments
Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya kegiatan membaca merupakan salah satu kendala. Bukan karena tidak bisa membaca, bukan karena harga bukunya, Bukan karena bukunya tidak menarik dan penuh manfaat, tetapi rasa malas dan mungkin karena faktor tidak biasa.

Buku adalah Jendela Dunia. Pengakuan Agus R. Sarjono sebagai penulis terkemuka di Indonesia saat kejenuhannya sebagai penjaga toko memperkenalkannya pada keisengan membaca buku membawanya berlibur ke negara-negara lain seperti afrika, ia menelusuri belantara dan hidup di desa-desa pedalaman afrika lewat novel Himunyanga-Phiri berjudul warisan, mengelilingi mesir menikmati karakter orang-orang mesir dan peradabannya dalam tulisan Naquib Mahfouz pada novel Lorong Midaq, Balkan, Yunani dan Tiongkok di tiga negara itu ia mampir sebentar dengan pengembaraannya lewat cerpen yang ditulis Marquerite Yourcenar, berhari-hari di Rusia lewat novel Perang dan Damai belajar arti Nasionalisme sebuah negara (Buku Aku bisa menulis fiksi oleh Joni Ariadinata).

Wacana Full day school menjadi pembicaraan yang pro dan kontra. Entah dengan dasar apa bapak mentri melontarkan program ini. Full day school sudah banyak di pakai oleh sekolah swasta diperkotaan. Alasan orang tua memasukkan anaknya di sekolah itu juga beragam diantaranya, selain sekolah mengajarkan akademik juga mengajarkan agama dengan porsi yang lebih banyak sehingga orang tua merasa lengkap untuk pendidikan anak mereka, ada juga yang beralasan sekalian “menitipkan anak” sehingga orang tua bisa tenang untuk pergi bekerja. Namun apakah program tersebut dapat di terapkan untuk semua sekolah terutama sekolah negri masih menjadi perdebatan.

Mengapa tidak kita mulai saja dengan program mudah dan ringan seperti membudayakan membaca. Negara-negara yang maju merupakan negara yang tingkat membacanya tinggi. Bisa dipahami dengan banyak membaca tentu akan menambah pengetahuan dan ilmu. Ada semacam kolerasi disana.

Dengan Negara kepulauan seperti Indonesia jangankan untuk full day school, pendidikan dasarpun belum tentu merata. Memperbanyak Infrastruktur sekolah dan memfasilitasi pembelajaran. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM tenaga pengajar mungkin sangat diperlukan. Meskipun belajar tidak harus di sekolah. Mendapatkan kesempatan pendidikan harus menjadi hak setiap warga negara.  Tak perlu rasanya perubahan yang kontroversial tetapi tidak menyentuh perbaikan pada pendidikan di Indonesia. Lebih baik meningkatkan qualitas yang ada tapi berdampak besar atas manfaat yang di dapat Masyarakat.

Dengan membaca tidak hanya bertambah pengetahuan dan pengalaman namun dapat membuka wawasan dan pemikiran. Mungkin dari sana akan tumbuh generasi yang lebih baik. Dapat mengembangkan Indonesia sesuai dengan karakteristik Indonesia.

Banyak Program yang bisa dilakukan. Membaca dimulai dari yang mudah dan menyenangkan, membaca komik, buku cerita, cerpen, novel. Disana juga banyak ilmu yang dapat diambil minimal ada hikmahnya. Atau ada yang membaca buku memasak, traveling, kerajinan tangan, peternakan, pertanian sebut saja semua ada. Inshaallah.


Mudahkan? Perbanyak buku dan sebarkan ke seluruh Indonesia, agar generasi kita menyukai dan mulai membaca buku.  Mulai dari diri sendiri, sudah membaca bukukah hari ini?

Sabtu, 16 Juli 2016

Ibu Tangguh

Posted by cuap-cuap ratih on 06.06 with 3 comments
Tidak banyak teman yang benar-benar saya tahu mengenai kehidupan pribadinya. Namanya juga kehidupan pribadi tidak semua juga ingin orang lain mengetahuinya. Namun pagi ini salah satu teman lama yang sampai sekarang masih suka bertukar kabar menghubungi melalui salah satu media sosial, hanya ingin menjadikan saya teman ceritanya.  Dia mengabarkan bahwa suaminya akan menikah lagi dua bulan kedepan. Dan dengan hati-hati saya bertanya apakah di poligami atau di cerai? Ternyata mereka baru saja bercerai dan surat-suratnya pun sudah dikeluarkan oleh pengadilan agama.

Mungkin perpisahan itu sesuatu yang sudah tidak bisa dihindari lagi dan dapat terjadi kepada siapapun. Kehidupan berumah tangga yang dijalani bersama terkadang tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Satu pihak sudah berupaya dan berusaha menyesuaikan diri namun belum tentu pihak pasangan memiliki niat dan pemikiran yang sama bukan? Dan tidak bisa dipaksakan.

Saya jadi kepikiran apa yang akan dilakukannya setelah bercerai. sudah tentu perceraian bukanlah sesuatu yang direncanakan, karena awal menikahpun niatnya adalah niat baik untuk hidup bersama berbagi kasih dan sayang.

Yang saya tahu dia seorang ibu rumah tangga yang sebagian waktunya mengurus ke empat anak yang kesemuanya perempuan dengan usia anak paling besar 13 tahun dan yang paling kecil 4 tahun. Dan ternyata kegalauan mengenai nafkahlah yang lebih mendominasi perasaan dan pikirannya saat ini. Bagaimana dengan kebutuhan anak-anak yang masih kecil-kecil, biaya sekolah dan sebagainya.

Bagi yang mengalami, untuk menghadapi perceraian saja merupakan hal yang sudah cukup berat terutama saat menjelaskannya pada anak-anak. Bahwa kehidupan pernikahan orang tuanya sudah berakhir, ayahnya akan menikah lagi dan mungkin akan sangat jarang melihat ayahnya di masa yang akan datang. Belum lagi pandangan lingkungan yang mungkin akan ada banyak gunjingan dan pembicaraan. Hidup sendiri sebagai janda membesarkan empat orang anak. Apalagi ditambah urusan nafkah ini bukan hal yang mudah. Apa boleh buat semua itu harus tetap dilalui karena bagaimanapun hidup harus move on.

Yang harus diketahui adalah ternyata tetap menjadi kewajiban ayah atau mantan suami menafkahkan anak-anaknya. Hey.. tidak ada yang namanya mantan anak, mantan ayah atau mantan ibu. Mereka dihubungkan dengan darah yang kental dan merupakan dosa bila seorang ayah menyia-nyiakan orang-orang yang wajib dia nafkahi. Nafkah yang cukup tentunya, bukan hanya memberi untuk menggugurkan kewajiban. Setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan. Juga nafkah kepada istri dalam 3 bulan masa iddahnya. Jadi ini merupakan hal penting yang harus dibicarakan. Hak seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya untuk memintakan kewajiban mantan suaminya itu terhadap anak-anak, bukan berarti wanita itu materialistis tapi dia realistis dan faham haknya.

           Seorang ibu rumah tangga yang tidak pernah terlibat langsung untuk mencari nafkah seperti teman saya itu tentunya bingung apa yang akan dilakukannya setelah perceraian. Peristiwa ini memberikan banyak pelajaran juga buat saya. Banyak yang harus dipikirkan oleh seorang single parent. Ada masa 3 bulan sebelum teman saya benar-benar harus mandiri secara pribadi dan ekonomi.

            Tidak ada keluarga yang menginginkan terjadinya perceraian. Namun apakah kita juga harus tetap siap dari awal pernikahan bila peristiwa itu terjadi? Itu yang ada dalam benak saya. Bukankah kita harus selalu optimis dengan kehidupan perkawinan kita agar terus terjaga hingga akhir dan dipisahkan oleh maut.

Saat berkesepakatan mengenai perceraian, mantan suami berjanji untuk terus menafkahi anak-anak. Namun apa yang akan terjadi bila ternyata janji tinggallah janji? Apa yang bisa dilakukannya kemudian? Tentu saja dia harus bekerja, tapi bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil yang membutuhkan pengawasannya sedangkan dia pun tidak bisa mengandalkan keluarga besarnya seperti orang tuanya yang sudah udzur untuk membantu menjaga. Tidak memiliki sanak saudara yang bisa dimintai tolong, karena mereka juga memiliki kondisinya masing-masing. Tidak mampu membayar pengasuh yang sedangkan dia sendiri kesulitan ekonomi. Bagaimana bila hal-hal itu semua terjadi? Apa saya terlalu membayangkan hal yang buruk? well.. selalu prepared  for the worst alias kondisi yang paling pahit.

beberapa hal yang dapat diambil sebagai hikmahnya, pertama perceraian adalah masa lalu, hidup harus terus berjalan, cukup menjadikan pemicu perceraian sebagai pelajaran hingga kedepannya tidak terulang. Setelah perceraian merupakan titik kehidupan yang baru. Mungkin sebelumnya kehidupan pernikahan tidak memberikan kebahagian yang didambakan, saatnya mencari kebahagian yang baru, kehidupan pernikahan yang baru. Kenapa tidak? hak azasi manusia untuk merasa bahagia bukan?

Kedua terkait dengan anak. Mereka adalah korban, genggamlah tangan mereka jadikan mereka kekuatan dan menjadikan mereka kuat. Berdamai dengan mantan untuk urusan memberikan kasih sayang. Kewajiban orang tuanya untuk tetap menjaga dan mengasuh sehingga mereka mampu berdiri sendiri, walaupun orang tua tidak lagi bersama.

Ketiga bahwa ibu rumah tangga itu harus pintar dan tangguh dalam arti kata pintar akalnya juga pintar menata hatinya. Jadi berpendidikan tinggi itu perlu. Apalagi bila memiliki Iketrampilan yang dapat dijadikan sumber pendapatan bila memang dibutuhkan. ibu rumah tangga dapat menghadapi segala macam permasalahan. Bahwa ibu rumah tangga memiliki keyakinan dapat berdiri diatas kakinya sendiri memberikan izzah atau penghargaan untuk diri sendiri, Memberinya kekuatan untuk tetap tegar demi anak-anaknya. Berpikiran positif dan mampu bangkit dari masalah yang menerpa. Sehingga kesedihan tidak membuatnya berlarut meratapi nasib dan menyesal berkepanjangan.

Keempat, hal yang ada di benak saya ini mungkin bisa menjadi solusi, bahwa ibu rumah tangga minimal memiliki tabungan. Lebih baik lagi bila tabungannya itu adalah asset yang produktif. Tanah, bangunan atau mobil yang dapat disewakan merupakan salah satu contoh asset yang produktif. Tidak ada ruginya memiliki tabungan. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak dapat menambah penghasilan. Ibu rumah tangga mungkin "tidak bekerja" karena asetnya yang bekerja untuknya. Mungkin itulah yang harus dipersiapkan dari awal pernikahan. Sedikit ataupun banyak tabungan itu tidak ada standar khusus, yang terpenting sudah dipersiapkan. Seorang ibu minimal punya sedikit pengetahuan untuk mengelola keuangan dalam rumah tangganya.

Namun bila kondisi diatas belum dipersiapkan karena jangankan untuk memiliki tabungan, dalam kehidupan pernikahan yang lalu saja, uang yang ada selalu habis untuk segala kebutuhan. Atau mungkin inilah yang menjadi dasar perceraian maka yang perlu dilakukan adalah banyak berdoa. Selalu ada Allah yang dapat menjadi tempat bersandar. Jalan keluarnya mungkin dari arah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Itulah kuasa Allah bila Ia katakan terjadi maka terjadilah. Berprasangka baik akan membawa aura kebaikan dan pikiran yang positif. Percayalah Allah mengabulkan segala doa hambanya. Tetap berikhtiar atau berusaha dengan kondisi yang ada. Melakukan pekerjaan yang halal, memulai usaha kecil-kecilan di rumah lebih baik daripada hanya berpaku tangan dan merenungi nasib yang tidak akan berubah bila tidak diusahakan untuk berubah.

Saya berharap, support yang saya berikan dapat menambahan kekuatan untuknya, walau hanya sedikit meringankan kegelisahan dan meringankan beban dihatinya. Hakikat teman bagi saya adalah teman yang memberikan manfaat atau teman yang memberikan pelajaran dan saya ingin menjadi teman yang memberikan manfaat walau hanya sedikit. Saya bangga terhadap teman saya itu meski harus mengambil keputusan yang sulit tapi dia tidak menghindari dan lari dari kenyataan. Ditengah ketidakberdayaannya dia tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya yaitu tetap berpikiran positif dan kuat berpegang teguh kepada keyakinan semua akan berlalu dan akan berjalan dengan baik. Demikianlah.