Senin, 06 November 2017

Pahlawan

Posted by cuap-cuap ratih on 05.12 with No comments
Belakangan ini, saya membaca buku tentang Diponegoro. Penulisnya sendiri mengakui bahwa sumber cerita mengenai pahlawan nasional ini tidaklah banyak namun ada satu buku berjudul " The power prophecy of Prince Diponegoro" ditulis oleh Dr.Peter Carey, meskipun belum ada terjemahannya dan masih dalam bahasa Inggris. Buku ini dijadikan acuan dalam bahasa Indonesia.

Saya pun membayangkan perjalanan hidup pangeran. Bagian yang saya suka adalah masa remajanya beliau. Dalam kesehariannya pada pagi hari, ia belajar agama dan pengetahuan, dilanjutkan pada  pada sore menjelang malam berlatih kanuragan.

Dalam usia muda, mengisi hari dengan belajar merupakan suatu anugrah pada waktu itu. Pangeran belajar di beberapa pesantren dan juga mendatangkan seorang guru pribadi untuk mengajarnya .

Buku ini mengingatkan saya, sehingga memiliki keinginan agar anak-anak saya kelak selain dapat belajar disekolah, juga dapat belajar ilmu Kanuragan. Bukan untuk menjadi pahlawan tapi untuk melatih fisik dan mampu menjaga diri. Karena didalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Rasulullah pun mencontohkan dengan sabdanya untuk mengajarkan kepada anak-anak dapat berenang, memanah dan berkuda, bukankah ini juga melatih fisik selain mempelajari agama.

Karena jaman sekarang bukan lagi perang melawan penjajah tapi berjuang menghadapi perubahan jaman yang semakin tidak tampak raut wajah tapi menyusup dalam setiap lini kehidupan.


Minggu, 05 November 2017

Posted by cuap-cuap ratih on 20.04 with No comments
Membentuk Karakter Cara Islam oleh M. Anis Matta

Seorang pemikir Islam sekaligus juru bicara gerakan Ikhwanul muslimin di dunia barat bernama Asy-syaikh Kamal Halbawy pernah mengutarakan hasil pengamatannya terhadap kondisi umat Islam menjelang abad 21. Yang digarisbawahi olehnya ialah Dhoyya al-Hawiyyah al-Humayyizah (hilangnya kepribadian istimewa) di kalangan kaum muslim. Memelihara keseimbangan antara akhlak individu dengan akhlak sosial.

Terjadinya krisis moral dan kepribadian dengan ditandai dengan popularitas sosial terbagi menjadi kelompok kuat yg tirani dan kelompok lemah yang menjadi objek tirani. Nilai-nilai kelompok kuat menyebarkan kejahatan. Ditandai juga dengan keterasingan dalam individu, asing dalam masyarakatnya. Hidup di tengah mereka namun tidak merasakan kebersamaan. Hidup hanyalah untuk dirinya sendiri.

Teori keseimbangan Umar bin Khattab menyatakan keseimbangan sosial akan tercipta jika keshalihan bertemu dengan kekuatan dan kejahatan bertemu dengan kelemahan. Umar bin Khattab senantiasa berdo'a, "Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari ketidakberdayaan orang-orang bertaqwa dan keperkasaan orang-orang jahat."


Rabu, 11 Oktober 2017

Resensi Buku Fiksi Thriller

Posted by cuap-cuap ratih on 00.07 with No comments

Resensi Buku Fiksi Thriller
Judul                    : Girls ini the dark
Penulis                 : Akiyoshi Rikako
Penerbit                : Original Japanese Edition by Futabasha Publishers
Penerjemah          : Andry Setiawan
Penerbit                : Penerbit Hero
Jumlah hal            : 277 hal

Kenapa “Girls”? itu karena tokohnya lebih dari satu. Why “in the dark?” hal ini tergambarkan adanya pertemuan klub sastra yang sangat penting yaitu yami-Nobe dan pertemuaan pembacaan Naskah. Lebih menarik, naskah yang akan dibacakan adalah perasaan dan perhatian yang meluap-luap terhadap salah satu temannya bernama shirashi itsumi. Bertambah mencekam karena naskah itu seakan-akan dapat menunjukan siapa pembunuh diantara keenam putri anggota club sastra.


                Terjemahannya sedikit kaku sehingga saat membacanya tidak dapat merasakan mistery yang melingkupinya. Namun jalan cerita yang menarik membuat buku ini patut untuk dibaca. Bagaimana persekongkolan itsumi dan sumikawa sayuri begitu rapi dan terencana dengan baik membuat semua kejadian tidak terjadi seperti dibuat-buat dan mengalir secara alami. Memberi kesan yang berbeda-beda dengan anggotanya.yang ujungnya adalah pembalan dendam semata.  

Selasa, 10 Oktober 2017

Resensi Buku Kesehatan

Posted by cuap-cuap ratih on 22.31 with No comments


Judul buku          : Mitos dan Fakta Kesehatan
Penulis                : Erikar Lebang
Penerbit              : PT. Kompas Media Nusantara
Tahun                  : 2012
Jumlah Hal.         : 196

Buku ini membahas kesehatan dari sisi yang lain, tidak didasarkan pada ilmu pengobatan penyakit tapi pada hal-hal praktis yang bisa dilakukan sehari-hari. Seperti pepatah mengatakan “lebih baik mencegah daripada mengobati” maka sebelum jatuh sakit akibat salah satunya seperti perubahan pola hidup, lebih baik mencurahkan kemampuan untuk menjaga sendiri kesehatannya.

Ilmu Naturopathy telah dipraktikkan sejak lebih dari dua ribu tahun silam pada era Hippocrates. Naturopati adalah gabungan dari ilmu, seni, pengetahuan, filosofi serta praktis diagnosis, perawatan dan pencegahan terhadap penyakit. Pengobatan yang diberikan pun harus bersifat alami dan dapat diterima oleh tubuh.

“Konsisten menjaga apa yang masuk ke mulut dan perut adalah penentu apakah hidup kita akan sehat berkualitas atau tidak.” Kalimat ini yang akan terbaca saat membuka halaman pertamanya. Buku Erikar ini mulai membahas dari sistem cerna manusia, bagaimana proses makanan diolah dan diproses dari mulai gerbang sampai fase terakhir.

 Salah satu contoh saat makanan berada didalam mulut sebagai gerbang pertama dalam sistem cerna kita. Ada gigi sebagai pelumat dan air liur sebagai pelumas termasuk ada enzim yang melimpah. Disinilah makanan harus dilumat dengan cermat karena dalam sistem cerna lanjutan tidak dijumpai lagi alat pelumat seperti gigi dan makanan yang tidak terlumat sempurna akan membebani sistem cerna.

Dalam buku ini tidak ada gambar yang berlebihan, hanya ada gambar-gambar kartun lucu yang mewakili tema di setiap bagiannya. Size tulisannya pun dibuat sedikit lebih besar sehngga tidak membuat mata terpicing dan pada kalimat-kalimat penekanan di tulis dengan warna lain selain hitam seperti pink, biru, orange, ungu sungguh menarik.

Buku ini merupakan rangkuman tulisan-tulisan penulis di dalam twitter dengan maksud beri berbagai inspirasi yang patut direnungkan agar manusia dapat menikmati hidup sehat.

Senin, 18 September 2017

Penilaian Orang Lain

Posted by cuap-cuap ratih on 08.38 with 8 comments
Keliatannya lucu yaa.. kita memanggil anak kita dengan menyebut endut, cipit, mungil, unyil, tapi tidak disadari itu akan menjadi penilaian yang meyakitkan.

Jadi inget kalau dulu saya sering dipanggil anak bawang sampai sekarang kalau ketemu temen-temen masa kecil masih juga disebut itu.

Dulu memang bentuk fisik saya kecil mungil imut gitu dan saat itu saya juga tidak dapat mengelak dari panggilan teman-teman, tapi masa sampai seusia buibu begini masih dipanggil anak bawang, udah jelas saya protes.

Bukan hanya karena ternyata saya tumbuh lebih besar dari mereka tapi saya juga bisa tumbuh lebih tinggi sedikit. Proses perkembangan setiap orang berbeda dan inilah yang saya katakan kepada my baby girl.

Dia merasa tidak tumbuh normal seperti teman-temannya yang lain. Memang fisiknya gambaran seperti waktu saya kecil. Nurun plek-plek kata orang.

Badannya boleh terbilang kurus tapi bertenaga, senangnya belajar kayang dan hand stand, karena ikut bela diri taekwondo juga membuat wilayah perutnya sixpack padahal perempuan loh,  beda dikit juga sama uminya yang onepack hehe. dan tidak setinggi seperti teman lainnya. Sering masih dikira anak usia kelas 2 atau 3 padahal sudah kelas 5 SD.

Nah itulah yg membuatnya bahkan melakukan gerakan yang dapat membuat badan lebih tinggi, itu sih katanya, karena materi ini dia rangkum dari pencahariannya di mbah google.

Lompat tali, badminton, berenang banyak lagi deh dan selama masih olahraga yang normal, saya tidak melarangnya malah bagus untuk kesehatan.

"Kok adek ga tinggi-tinggi sih mi?"
"Emang kenapa?" Tanya saya heran.
"Kemaren kayaknya yasmin sama tingginya sama adek, sekarang dia dah lebih tinggi sedikit"
"Mmm.. ya tiap orang perkembangannya kan ga sama dek"
"Menurut mi, adek harusnya bisa lebih banyak untuk bersyukur, kenapa? Karena pertama, badan adek ga ada yang cacat, yakan?"

"Kedua, pertumbuhan adek sekarang mungkin masih berfokus pada perkembangan otak adek buktinya adek dapet rangking terus dari tk alhamdulillah, yakan?"

"Ketiga perkembangan badan adek tuh masih terus berlanjut sampai usia 17 tahun, nah adek aja baru 10 tahun. Ga perlu khawatir adek masih akan terus tumbuh kok, inshaallah. Untuk tumbuh dengan optimal, perhatikan makanan, minuman dan terutama adek bisa merasakan happy dengan hidup adek, karena orang yang bisa happy tidak saja akan membuat hidupnya lebih indah tapi bisa juga membuat hidup orang lain disekitar adek juga indah. Mi contohnya, bangga dan bersyukur sudah diberikan abang dan adek jadi anak umi"

"Kanapa harus membandingkan dengan orang lain? mi aja ga membandingkan anak mi sama anak ibu yang lain ya kan?"
"Mi menerima adek apa adanya, yang terpenting bagaimana usaha adek menjadi lebih baik dari adek yang sebelumnya"

Penjelasan panjang berakhir dengan umi mendapatkan kecupan mesra dipipi dari adek. Yeeyy.. Mudah-mudahan adek faham apa yang ingin mi sampaikan.

"Do not worry about other people's judgment of you. Live your life the way you want. Be thankful."


Rabu, 13 September 2017

Cara Mengatasi Malas Menulis ala ratihhoney atau ratihmadu.

Posted by cuap-cuap ratih on 23.54 with 15 comments
Hedeh baru hari ketiga dah keok nih, padahal janjinya setiap hari satu posting. Janji palsu ya? Hiks..
Untuk itu hari ini mau nulis, sembarangan aja.. gak apa kan? Daripada sampah yang dibuang sembarangan nanti lingkungan jadi kotor dan gak bersih, eh dilalerin lagi. Jujur nih terakhir menulis itu bulan lalu, sudah lama banget rasanya untuk seseorang yang katanya ingin selalu bisa one day one post, iya itu saya, si ratihhoney, bahasa Indonesianya ratih madu tapi maksudnya mah ratih sayang eciee..

Menulis sih tapi lebih sering menulis status di facebook tapi itu tidaklah sama dengan saya menulis diblog yakan? Atau sama saja? Ya sudahlah!

Nah, nomor satunya tadi sudah saya sebutkan. Pertama, pemanasan dengan menulis bebas yang penting adalah mulai menulis. Dalam pikiran saya, kalau menulis itu harus sesuatu yang keren. Masalahnya keren buat saya belum tentu keren buat kamu yakan? Nah daripada menulis sesuatu yang harus keren versi kita, tulislah sesuatu yang menyenangkan terutama kita yang senang menulisnya. Menulis itu sesuatu yang dapat membuat kita happy. Saya yakin, tulisan kamu bakalan lancar jaya. Mau curhat atau beropini sok atuh, berdongeng, menceritakan suatu peristiwa atau apapun itu hal kecil yang terjadi menjadi pengalaman pada hari ini. Bebaaass.

Kedua, Banyak banget ide dalam kepala, malah karena kebanyakan dan mau dituangkan semua terus dipikirin aja akhirnya tidak ada satupun tulisan yang benar-benar ditulis. Notes di HP sih banyak dengan premis-premis tulisan. Sedih pake amat belum ada yang digarap dengan serius. Balik lagi keawal, kurang keren nih tulisannya kata pikiran saya. Bukannya baru tahu , apa yang kita lakukan semua berawal dari pikiran. Makanya dalam hadits arbain yang paling awal adalah semua tergantung pada niatnya. Jadi semua yang kita kerjakan diperiksa niatnya. Sudah benar apa belum sesuai dengan hidup kita. Jadi saya juga menanamkan dalam diri, menulis adalah sesuatu yang membuat saya senang dan dapat bermanfaat bagi orang lain artinya tulisan saya kalau bisa mengajak orang menjadi lebih baik bukan mengajarkan kemungkaran. Inget banget waktu diawal masuk ke komunitas ODOP, bang syaiha bilang,”menulis ya menulis saja, dengan sendirinya dia yang akan menemukan pembacanya.” Tenang.. iklan aja saya mau baca apalagi tulisan kamu. Iya kamu… yang sudah keren dari lahir.

Ketiga, ya udah PEDE aja lagi. Menulis di blog ya blognya punya sendiri, yang menulis ya saya sendiri, kalau kamu mau baca ya alhamdulillah kalau enggak membacanya juga saya bisa apa, saya siapa, bukan apa-apa dan siapa-siapa #versi drama. So, tidak usah khawatirkan kata orang. Tulisan saya dibilang tidak berkembang ya udah gak apa, saya terima kritik dan saran, bisa juga sih saya terima jahitan tapi saya biasanya lama gak bisa diburu-buru harus cepet jadi #eh kok promosi. Kalau berkembang berarti bukan tulisan dong tapi bunga.

Oia satu lagi, berarti keempat ya.. tanamkan mantra-mantra dalam alam pikiran bawah sadar mengapa kita harus menulis, gitu juga kata penulis-penulis ternama seperti mba Asma Nadia. “Tentukan WHY kamu harus menulis” jadi kamu akan punya motivasi yang membuat kamu terus menulis. Nah ini yang selalu terngiang tapi kalau udah ada kerjaan lain yang jadi prioritas eh yang ini lupa. Parah!

Cukup sekian tulisan ngaco saya hari ini, semoga suka dan membawa manfaat. Maksudnya ambil yang bermanfaatnya aja dari tulisan ini, kalau gak ada yang bermanfaat salahkan yang menulis tulisan ini karena emang gak punya apa-apanya yang bisa diambil, laptop aja pinjem, ide mungutin di jalan, nulisnya pake sebelas jari. Dah gitu aja. Yang jelas didoain biar hidup kamu happy terus, sehat terus dan selalu dikuatkan dalam ujian dari yang maha kuasa. Aamiin…


sumber gambar: Google

Senin, 11 September 2017

Rahasia Kata Tapi

Posted by cuap-cuap ratih on 22.37 with 3 comments
“ih kamu baik banget sih tapi sayang…..”
“Kamu udah bener tapi masih kurang”
“Sikap kamu itu jadi dambaan setiap wanita tapi aku sukanya sama yang lain”
beuuh pasti sakit yaa.. karena yang nyangkut dalam alam pikiran kita adalah kalimat sesudah kata “tapi” ya tidak? Mau kita baik, mau kita itu benar atau jadi dambaan setiap wanita eh, seakan hilang secepat pisang yang baru digoreng masuk dalam perut, makyees gitu.

KBBI juga mendefinisikan kata tapi sebagai kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan atau tidak selaras. Dan sedihnya orang lebih berfokus kepada hal yang negatif dari pada yang positifnya. Kok jadi satir nih, tapi benarkan?

Sebagai ibu, saya juga merasa sering banyak menggunakan kata “Tapi” ini.
“mak, aye dah buang sampah ye” gitu kata my boy. Emaknya jawab,”iye, tapi besok-besok buang sendiri dong ga perlu emak nyuruh-nyuruh dulu”
kalau begini kalimat negatif atau kalimat positif? Survei akan membuktikan dengan lihat tuh my boy kalau buang sampah secara kesadaran atau bakal disuruh lagi. Tunggu ya, nanti saya kasih tahu jawabannya.

Beda tidak dengan jawaban yang begini: “Alhamdulillah anak emak super baik dan rajin, terima kasih ya sudah mau buang sampah.” Tanpa kata “tapi” bagaimana hasilnya ya?

Sabtu kemarin, saya benar-benar meluangkan waktu untuk diri saya sendiri yang dari hari senin sampai jumat udah rempong aja bawaannya urusan rumah. Dari melihat bang usyup dan membaca di mbah google saya menemukan satu kata eh dua sih, tapi mau cerita satu aja kata “tapi” ini.

ternyata yang menjadi fokus dalam pikiran kita adalah kalimat sesudahnya. Tapi sayang…, tapi masih kurang, tapi aku sukanya sama yang lain atau seperti jawaban emak diatas karena ada kata “tapi” dan semua berlawanan atau tidak selaras dengan kalimat sebelumnya. Kalimat sebelumnya bermakna positif maka kalimat setelah kata “tapi” menjadi kalimat negatif dan inilah yang masuk dalam alam pikiran kita. Seberapa bahaya kalau setiap saat yang didengar adalah kalimat bermakna negatif, bisa-bisa kita juga pikirannya jadi negatif terus.

Masih tugas saya sebagai ibu, dari itu saya harus lebih berhati-hati saat berbicara kalau tidak, salah-salah bisa kalimat negatif terus yang saya ucapkan.

Menjawab pertanyaan diatas mengenai kisah my boy, ternyata sampai sekarangpun kalau buang sampah masih harus diingatkan lebih dahulu. Kenyataan yang ada membuat saya menelan pil pahit karena kalau pil manis namanya permen berbentuk pil yah. Kalimat setelah kata “tapi” dalam percakapan kami ternyata bermakna negatif. 

Jadi PR buat saya nih menyusun kalimat yang bermakna positif. Kalau kalimatnya seperti “Biar kamu kalau buang sampah harus sering diingatkan tapi emak bangga deh sama kamu, kamu anak yang rajin”. Mudah-mudahan yang tertanam dalam alam pikirannya hanya kalimat yang bermakna positif.

Kata “Tapi” dapat membuat kalimat menjadi makna positif dan negatif, tergantung bagaimana mengolahnya. Ajaib ya!

Kamis, 10 Agustus 2017

Review Cerpen

Posted by cuap-cuap ratih on 00.28 with 1 comment
 “Keyakinan baru” menceritakan penantian panjang seorang wanita yang kini telah berakhir. Penantian selama 8 tahun dalam menunggu tanpa kepastian. Cerita disini tampak menggantung dan penuh misteri. Karakter laki-laki maupun wanitanya tidak terdeskripsi dengan jelas, lebih berfokus kepada tema penantian. Saya merasakan kesedihan si wanita saat mengutarakan perasaannya namun harus  memilih untuk terus dapat melanjutkan hidup.

Saya sedikit merasa ada keganjilan, pada bagian akhir dimana laki-laki bereaksi atas pernyataan wanitanya, tanpa ada sepatah kata dan sedikit ekspresi. Membuat saya bertanya penantian apa yang diharapkan terjadi dalam hubungan mereka, karena dari awal cerita laki-lakinya sudah bersikap acuh dan dingin. Begitu sedikit mengenai review cerpen ini.

Tugas kali ini lumayan berat buat saya. Pernah tahu anak balita belajar jalankan? Nah seperti itulah saya dalam menulis sebuah cerita fiksi, belum bisa dan masih tertatih, tapi sudah mau menilai  karya orang lain namun dengan demikian saya berharap dapat belajar lebih banyak lagi.

Saya menyebutkan sebuah fiksi itu bagus atau tidak adalah dengan merasakan apa yang penulis rasakan dan ingin sampai. Kalau berhasil berarti bagus ceritanya. Saya dapat membayangkan melalui deskripsi tempat, karakter, konflik yang ada atau ya.. itu tadi berdasarkan perasaan.

Menulis katanya Tere liye adalah, pertama tidak ada aturannya, kedua kalau masih bingung lihat aturan yang pertama. Bebaslah dalam berekspresi. Karya Estina juga memiliki keunikannya sendiri, khususnya “Keyakinan baru” ini bila dapat dideskripsikan lebih dalam mengenai hubungan keduanya, tentu pesan yang ingin disampaikan jadi lebih jelas.


Rabu, 02 Agustus 2017

Andre

Posted by cuap-cuap ratih on 00.00 with No comments
Nasha meneguk kembali air minumnya. Hari yang panas seperti telah mengambil sebagian cairan dalam tubuhnya yang kurus terbalut kulit. Dia meminum lebih dari tiga tegukan dan langsung mengkosongkan botol minum yang tinggal seperempat isi. Matanya kosong menatap serius padahal pikirannya sudah melayang entah kemana.
”Ini sudah hari ke enam puluh tiga ya?”tanyanya dalam hati. Dia meletakkan pulpen yang sejak tadi dipegangnya. Lalu Lalang orang yang ada diperpustakaan itu tidak mengganggu kebengongannya. Seakan tidak perduli apa yang terjadi di sekitar, Nasha hanya dipenuhi oleh pikirannya sendiri.
Dia buka lagi pesan yang dia temukan di dalam lokernya. Tertulis dengan huruf Kapital tebal
 “WAKTUMU HANYA 100 HARI TERHITUNG HARI INI” 
Hanya itu tidak ada nama yang di tuju dan tidak ada nama pengirimnya.
Mbok, kalau mau kirim pesan ya lewat WA kek, SMS kek, Messager kek. Ni orang dari jaman bahela kali ya?
Ooh GOD, ini apa? Dead noted?
Nagih hutang? Perasaan ga punya hutang.
Siapa sih? Serius?
Gini hari ada aja orang yang iseng ngelakuin hal macam ini. Gak mau di gubris nanti penting, digubris tau-tau ga penting. Otak Nasha sibuk berpikir.
Dari perpustakaan, ke kelas, balik lagi ke perpustakaan dan berakhir di kantin. Nasha hanya bisa menghela nafasnya. Semangkok baksopun habis menjadi pelampiasan rasa jengkelnya karena tidak ada satu ide pun yang nyangkut dalam gambaran otaknya siapa yang menulis pesan itu dan untuk apa?
“Tungguin aja kali ya sampai 100 hari kita liat aja apa yang akan terjadi,” Nasha sudah pasrah dan berencana untuk menanti hari ke seratus. Apa yang akan terjadi maka biarlah terjadi pikirnya.
“Papi, besok ketemu ya aku mau ngomong,” berbicara dengan seseorang di telpon. Kemudian dia mengangguk beberapa kali dan mengucapkan salam sebelum menutup terlponnya.
***
“Papi,” panggil Nasha kepada lelaki tua berbaju putih yang sedang menulis sesuatu di mejanya.
“Masuk sha,” lelaki tua itu beranjak dari kursi meninggalkan aktivitas menulisnya dan berjalan kearah Nasha. Mempersilakannya untuk duduk di sofa yang berada di sudut ruangan dekat jendela. Ruangan itu tidak besar, di seberang pintu langsung berhadapan dengan meja kursi kerja dan sofa disebelahnya sudah cukup penuh mengisi ruangan itu.
“Sehat sha?” tanya lelaki tua yang dipanggil papi oleh Nasha.
“Aku sehat pi,”
Diserahkan kertas pesan yang ditemukan dalam lokernya. Papi menerima lalu membacanya dan mengangguk tanda mengerti.
“Apa yang kamu pikirkan sha?”
Nasha mengangkat bahunya sesaat dan menurunkan sembari menghela nafas. Entah masalah apa yang akan terjadi pada dirinya. Itulah yang ada dalam pikirannya tapi tidak ia utarakan.
“hari ini sudah hari ke enampuluh empat, pi”
“Tidak perlu panik atau cemas dulu sha,” meski tidak diucapkan papi tahu apa yang dirasakan oleh Nasha, tangan nasha tidak lepas dari pada bagian belakang lehernya. Hal itu menunjukkan kecemasan yang cukup intens.
“Lebih baik kamu tenang dulu,” disuruh papi untuk tenang, Nasha malah merasakan kantuk. Nasha dan papi tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk beberapa saat. Lantunan musik instrumentalia yang telah dipasang papi sebelum Nasha datang semakin membuat matanya berat untuk lama-lama dibuka. Kalau tidak ingat ini di kantor papi, pasti Nasha sudah rebahan sambil memeluk bantal. Entah mengapa disini Nasha merasa hati dan kepalanya bisa merasa tenang setelah beberapa hari tidak bisa tidur dengan benar.
“Papi!” tetiba Nasha bangun dari sofa.
Papi sedikit terkejut, karena tiba-tiba Nasha bergerak dan langsung berdiri, berjalan mondar-mandir di hadapannya.
“Duduk sini, sha,” dengan sabar papi mempersilahkan Nasha untuk duduk kembali di sofa.
Nasha hanya melihat kearah papi tanpa kata, tapi mengikuti intruksinya untuk duduk.
“Yang menulis ini siapa?” coba diserahkan kertas pesan itu kembali kepada Nasha.
Nasha hanya melirik kertas itu.
“Lho kenapa jadi tanya aku?” jawab Nasha.
“Emang papi ga boleh tanya ya?” canda papi sambil tersenyum.
Nasha membuang muka dan mendengus tidak perduli.
“Pesan ini buat siapa ya?” papi pura-pura bertanya kepada dirinya sendiri, meski maksudnya bukan itu. Kertas pesan itu dibolak-baliknya seakan-akan itu kertas yang sangat menarik, yang perlu diteliti dan diperhatikan dengan seksama.
“Bukan buat siapa-siapa!”
“Lagian papi ngapain sih ngurusin itu?”
“Jadi kamu yang menulis ya?” tanya papi penasaran.
“Bukan!”
“tapi kelihatannya kamu tau siapa yang menulis ini,”
Nasha diam saja
“Bisa kasih tau papi?” papi merogoh saku celana untuk mengambil sesuatu didalamnya. Ternyata sebuah lipstick merk vivele yang diimport dari negara tetangga sebelah dan pandanginya bolak-balik di depan Nasha.
Nasha melirik, sikapnya seperti tidak tertarik dengan apa yang ada ditangan papi tapi ada seberkas percik cahaya kesenangan dimatanya yang berwarna coklat muda. Semakin lama melihat lipstik itu semakin penasaran Nasha dibuatnya.
“Kasih tau dulu siapa yang menulis pesan di kertas dan lipstik ini buatmu,” tawar papi sambil mengacungkan lipstik yang masih terbungkus plastik transparan.
“Itu Andre yang menulisnya,” Nasha tidak dapat menahan diri untuk tidak merebut lipstik dari tangan papi
“Siapa Andre?” tanya papi
“Dia anak yang jarang berbicara, kerjanya hanya tidur!,”
“Lalu untuk apa dia menulis pesan ini,”
“Mana aku tau! tanya saja sama orangnya sendiri,” jawab Nasha acuh tak acuh tapi merasa senang mendapatkan lipstik kesukaannya.
“Kamu Lani ya?” selidik papi
“Iya,” tanpa sedikitpun menoleh kearah papi, mulai mencari cermin yang ada didalam tasnya.
“Papi bisa bicara dengan Andre?”
“Kan aku sudah bilang dia itu tukang tidur, ya lagi tidurlah dia sekarang!”
“Sebentar saja, bisa ya?” papi tidak akan menyerah begitu saja.
“Lebih baik jangan,” wajah Nasha terlihat serius memandang papi.
“Kenapa?” tanya papi penasaran
“tidak perlu membangunkannya. Dia pernah bilang ingin membunuh Nasha. Aku juga tidak suka Nasha tapi tidak perlu sampai segitunya juga,”
“Jadi apakah pesan itu memang untuk Nasha?” wajah papi tampak serius berkali-kali lipat.
“Mungkin,” sikapnya kembali acuh sambil memerahkan bibir tipisnya dengan lipstik baru pemberian papi eh.. hasil rebut dari papi.
“Tapi kalau Nasha mati, kamu juga akan mati Lani,”
Tampaknya Lani sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan papi. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahkan Andre akan berani berbuat seperti itu. Lani berpikir Andre hanya membual. Nasha melihat kearah papi mencari kebenaran dari ucapan yang di lontarkan itu.
“Berarti aku harus membunuhnya lebih dahulu sebelum dia membunuhku,”
Tetiba music berhenti dan tubuh Nasha terduduk lemah di sofa.
“Papi, sudahkah mengetahui siapa yang menulis pesan itu?” tanya Nasha
“Hem..” papi mengangguk pelan.
“Benarkah? Siapa pi?”
“Andre,” jawab papi singkat
“Andre? Siapa itu?”
“pemuda yang senangnya tidur dan ingin membunuhmu,” jawab papi dan menyerahkan kepada Nasha keputusan apa yang akan diambil dalam kasus pesan itu.
“Hahaha..” Nasha tertawa meski tanpa ada pelawak yang sedang membawa lawakannya. Nasha merasa lucu.
“Kenapa?” tanya papi
“Papi, dia itu tukang tidur, apa yang bisa dilakukan oleh orang malas dan tiada guna itu. Untuk melakukan sesuatu atas dirinya saja malas apalagi untuk orang lain. Membunuh? Itu hanya bualannya saja. Aku tidak percaya!” jawab Nasha percaya diri.

Papi sudah sejak dua tahun lalu menangani kasus ini, Nasha dan Lani dua karakter yang berbeda bahkan bertolak belakang. Nasha tidak banyak bergerak. Sikapnya selalu penuh misteri apa yang dilihat darinya bukanlah sikap yang sebenarnya. Dia tersenyum padahal menangis dalam hatinya. Tertutup dan tidak mudah bergaul dengan orang lain.
Lain lagi dengan Lani yang mengekspresikan apa yang sedang dirasakannya. Orangnya banyak bergerak. Agak acuh tapi mengawasi dengan baik. Dia mungkin tidak suka keramaian tapi minimal dia dapat bercakap-cakap dengan orang baru dikenalnya.
Hari ini baru Papi, psikiater yang menangani Nasha menemukan identitas lain dari dirinya yakni “Andre” pemuda tanggung yang senang tidur di setiap kesempatan dan ingin membunuh Nasha.
Benak Papi dipenuhi dengan berbagai pikiran. Apakah karakter Andre baru tercipta atau sudah lama ada. Apakah benar dia bisa membahayakan Nasha? Tidak ada yang mengetahuinya Bahkan Nasha sendiri. Adalah Nasha seorang gadis dengan DID.


#Dissociative Identity Disorder