Kamis, 11 Mei 2017

Bukan Milikmu

Posted by cuap-cuap ratih on 07.19 with 5 comments
Dewo: “Aaah, gagal lagi!”
Bimo: “Apa yang gagal lagi? Datang-datang melempar kesal gitu.”
Dewo: “Aku sudah mengeluarkan uang untuk mengurus ini itu, tapi ternyata proyek itu gagal Karena peraturan pemerintah yang baru dikeluarkan. Konyolkan!”
Bimo: “Terus?”
Dewo: “Ya, artinya aku kehilangan uangku dong untuk hal yang sia-sia.”
Bimo: “Kamu akan merasa kehilangan karena kamu merasa memilikinya, padahal didunia ini tidak ada yang benar-benar milik kita. Jadi mengapa harus merasa kehilangan untuk hal yang bukan milik kita?”
Dewo: “Tapi kan aku mencari uang itu dengan keringatku”
Bimo: “Iya benar, tapi bukan semata hanya karena kerja kerasmu hingga mendapatkan semua itu. Allah yang mengizinkan semua terjadi.”
Dewo: “Terus kalau aku tidak bekerja dari mana aku bisa dapat uang.”
Bimo: “Bagaimana cicak bisa tetap hidup sedangkan hanya bisa menempel di dinding?”
Dewo: “Lalu?”
Bimo: “Karena Allah yang menyediakan makanan untuknya.”
Dewo: “Aku ga ngerti”
Bimo: “kamu bekerja dan mendapatkan uang, Karena Allah yang memberikanmu kemampuan dan pekerjaan sehingga kamu mendapatkan uang itu.”
Dewo: “Jadi aku, tidak boleh merasa semua apa yang ada ini milik aku?”
Bimo: “Karena semua itu akan ada pertanggungjawabannya, maka menurutmu semua itu milik siapa?”
Dewo: “Mmmm..”
Bimo: “Sudahlah tidak perlu terlalu kesal, mungkin belum rezekimu saja. Cepet move on dan cari jalan lain. Semoga itu menjadi rezekimu”
***

Selasa, 09 Mei 2017

Bekal Menjadi Seorang Ibu

Posted by cuap-cuap ratih on 17.08 with 7 comments
     Dalam hidup ini, banyak dari sikap saya yang sangat saya sesali sekarang salah satunya seperti memasukkan anak lelaki saya ke sekolah pada usianya masih sangat muda. Hanya Karena kakak ipar kebetulan memiliki taman kanak-kanak dan letaknya dekat dengan rumah, saya tidak berpikir jauh dan memasukkan anak untuk sekolah di usianya 3,4 tahun. Saya melihat dia menikmati pergi sekolah dan bermain disana. Sayapun merasa tenang karena melihat anak saya senang. Ditambah saya merasa beban saya sedikit berkurang Karena selama dia sekolah saya dapat membereskan rumah. Saya memang “full timer mother” tanpa ada asisten rumah tangga.

     Tidak terasa belajar di taman kanak-kanak itu selama dua tahun lamanya. Saya masih belum melihat hal yang ganjil. Hanya saja hampir setiap hari gurunya akan datang ke rumah membawakan tas dan sepatunya yang tertinggal di sekolah, entah sengaja atau memang Karena lupa. Padahal sudah sering kali dinasehati untuk membawanya bila sudah pulang sekolah. Saya pun tidak ambil pusing Karena memang merasa hal itu wajar saja kan dia memang masih kecil.

      Setelah dua tahun itu, berarti anak saya berumur 5,4 tahun dan dia tidak ingin belajar lagi di taman kanak-kanak, dia ingin melanjutkan sekolah ke sekolah dasar bersama sepupunya dan akhirnya sayapun memasukkannya ke sekolah dasar. Dalam hal akademik dia dapat mengikuti dengan baik, sudah bisa membaca dan menulis namun untuk urusan kemandirian saya harus banyak membantunya. Sering ketinggalan buku, alat-alat tulis, PR, dan tugas-tugas lainnya. Mulailah saya melihat dia berubah dari awalnya dia senang bila pergi belajar di taman kanak-kanak, pada saat bersekolah di Sekolah dasar timbullah sikap acuh tak acuhnya. Badannya saja tetap bersekolah namun tidak dengan alam pikirannya sehingga membuat saya sering memarahinya karena tidak memperhatikan pelajaran dan apa yang disampaikan gurunya. Saya merasa anak saya itu tidak bertanggung jawab dengan sekolahnya.

     Saat itu saya tidak menyadari tekanan yang saya beri kepadanya dan itu sangat berdampak besar, bahkan yang dari usia 3 tahun dia sudah tidak lagi mengompol tiba-tiba dia mengompol hampir setiap hari! Rasa marah dan malu membuat saya bahkan menghukum dia untuk mencuci sendiri bajunya yang basah, pernah juga menariknya dari tempat tidur memandikannya pada tengah malam dengan cara dan kata-kata kasar sebagai dalih menasehati. Kalau mengingat itu selalu ingin menangis, membayangkan betapa hatinya terluka dengan perlakuaan dan apa yang telah saya ucapkan.

     Tidak berhenti disitu, saat saya masih banyak membantu, nilai-nilainya masih bisa dipertahankan. Sampai usia 9 th, saya merasa dia semakin besar dan saya mengurangi untuk selalu membantunya. Ternyata nilai-nilai akademiknya terjun bebas ke dasar yang paling bawah dan dia masih terus mengompol. Dalam kegalau saya menceritakan perkembangan anak kepada suami.

“Gimana tuh ya yah? Mi harus berbuat apa?”
“makanya jangan dimasukin sekolah buru-buru, kan dah ayah bilangin”
“Iya tapi kan anaknya yang mau”
“Kalau anaknya mau racun trus umi kasih juga?”

     Bukan solusi yang saya terima tapi seperti tamparan yang keras diwajah, melukai hati dan harga diri saya sepenuhnya sebagai seorang ibu melihat perkembangan anak yang semakin mundur, saya merasa gagal sebagai ibu. Ternyata saya juga tidak patuh dan mendengarkan apa perkataan suami, saya juga merasa gagal sebagai istri.

     Saya salah arah dalam membimbing dan mendidik anak. Saya seringkali membandingkannya dengan anak lain, bukannya melatihnya berkompetisi dengan dirinya sendiri. Meningkatkan kemampuannya dari waktu ke waktu membuatnya lebih baik dari kemampuan sebelumnya. Tapi hanya Karena pengakuan orang banyak akan stereotip terhadap kepintaran dan kesuksesan, membuat saya lupa melihat kemampuan dan potensi anak sendiri. Saya merasa bangga bila anak saya bisa membaca dan menulis sedini mungkin, tapi tidak masalah bila makan harus selalu disuapi, pakai baju harus dipakaikan, merapikan buku-buku yang harus dibawanya ke sekolah. Harusnya saya melatih kemandiriannya dulu sebelum menjejalkannya dengan pelajaran di sekolah, melatih akhlaknya sehingga dia dapat kuat menjalani kesehariannya.
     
     Tapi hidup tetap harus berjalankan? Saya sungguh-sungguh menjadikannya pelajaran agar tidak terulang lagi. Benar adanya bila setiap anak akan berbeda bahkan dengan saudara kandungnya sendiri. Kalau sepupunya bisa menulis membaca di usia 4 tahun, anak kita bisa berhasil di usia 6 tahun, memang kenapa? Temannya punya prestasi dengan banyak menang di setiap cerdas cermat, anak kita masuk sepuluh besar di kelasnya pun tidak ataupun di peringkat paling buncit, lalu kenapa? Dulu saya merasa sebagai ibu yang berhasil itu bila anak saya pintar juga berprestasi. Padahal setiap anak itu sudah Allah bekali dengan kemampuannya masing-masing, dan tidak sama.

      Ibu adalah sekolah pertama dalam kehidupan anaknya. Bagaimana bila seorang ibu justru tidak melihat kepada anaknya sendiri dan membandingkannya dengan anak orang lain. Siapa subjek sesungguhnya dalam ruang lingkup Pendidikan yang dilakukannya. Sayangnya hal ini saya sadari setelah anak pertama saya sudah merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Nasi sudah jadi bubur. Sekarang saya mencoba ikhlas menerima segala kondisi anak saya yang mungkin hal itu ada andil dari perlakuan saya dulu. Kemajuan dan perkembangannya sedikit demi sedikit.

      Banyak belajar ilmu-ilmu parenting dari berbagai sumber. Saya berpikir harusnya saya memiliki kedua hal ini jauh, mungkin sebelum saya menikah dan memiliki anak, sehingga bila saatnya tiba saya sudah siap, secara fisik dan mental sadar posisi dan tugas sebagai ibu. Tetap belajar sampai sekarang, Karena anak bertambah umur berbeda pula cara memperlakukannya apalagi sekarang juga bertambah jumlah anaknya. Sebenarnya menjadi ibu, buat saya adalah menjadi pembelajar seumur hidup terutama belajar menjadi ikhlas.


Sabtu, 22 April 2017

Pernikahan kedua

Posted by cuap-cuap ratih on 06.07 with 4 comments
"Sudah sejak kapan abang..." kalimat itu tergantung begitu saja, aku tak sanggup untuk bertanya. Tapi sekuat tenaga aku ingin mengatakannya.
"Sudah sejak kapan abang menikah dengannya?"
"Jauh sebelum abang menikahimu" jawaban datar tanpa ada rasa terlontar begitu saja.

Berani betul dia mengatakannya tepat didepan wajahku dengan sikap tanpa rasa bersalah.
Jadi selama ini aku telah dibohonginya mentah-mentah. Betapa bodoh aku tidak mengetahui tanda-tandanya sedikitpun.

Pernikahan kami bukannya pernikahan yang sembunyi-sembunyi. Semua orang di desanya, orang tuanya, saudara-saudaranya, teman dan sahabatnya juga begitu dari pihakku. Rasanya tak ada yang luput untuk kami undang.

Tak ada satu kata yang dapat keluar dari mulutku, terkatup begitu kuatnya tertutup amarah dan aku sangat terkejut. Ternyata aku adalah pernikahannya yang kedua.

"Kapan itu?"
"Lima tahun sebelum kita menikah"
"Dan sekarang statusnya dia apa?"
"Masih istriku"

Dia hanya bisa menunduk tanpa bisa menatap wajahku. Setelah kemarahan yang berusaha kutahan ini membuat seluruh tubuhku lemas. Meski aku terduduk tapi tidak kurasakan empuk tidaknya kursi yang menyangga badanku. Tanpa terasa airmata berlomba mengalir deras keluar dipipiku. Pecah sudah tangisku. Perasaan terkhianati memelukku erat, dadaku terhimpit dan membuatku sulit untuk bernafas dengan normal.

Suamiku, masih begitu statusnya saat ini, hanya membiarkan diriku mengeluarkan semua persediaan airmata yang ada. Kurasa itulah sikapnya yang memang harus dia perankan. Menutup mulutnya dan diam. Duduk diseberang kursiku seperti patung sampai selesai kuhabiskan airmata ini..

Sesuatu yang busuk tidaklah dapat disimpan lama-lama, pada akhirnya akan tercium juga kebusukannya.

Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Hatiku menjerit tapi tidak dengan mulutku. Semakin lama pandanganku semua menjadi gelap.

Hanya terdengar samar suara bang Bima memanggil namaku,"Rianti.. sayang.. sadarlah.. yang"

-bersambung-

Kamis, 09 Maret 2017

Belajar Agama

Posted by cuap-cuap ratih on 10.24 with No comments
Belajar Agama

Kalimat "Di dunia, kalau salah pakai baju masih bisa ganti tapi kalau salah agama bagaimana mau ganti, tahunya sudah di akhirat sudah terlambat untuk bertobat"

Deg.. kalimat ini dulu benar-benar menggugah saya. Memang benar keislaman saya karena orang tua beragama Islam. Tapi apakah agama ini yang benar? Kenapa harus beragama ini?

Saya juga baru memiliki pemikiran seperti ini setelah dewasa. Saat masih kecil yang ditahu hanya makan, tidur, sekolah, main. Apalah yang diberi orang tua itu yang diterima.

Disuruh les ini itu, selama menyenangkan hayo aja, disuruh ngaji ya jalan aja. Maka benar kalau orang tua yang dapat menjadikan anaknya sesuai dengan kepercayaannya. Anak-anak masih polos.

Namun setelah beranjak dewasa harusnya lebih peka terhadap hal ini. Menentukan bagaimana dan seperti apa agama yang dipeluknya. Karena disanalah terdapat tujuan mengapa kita hidup. Mempertanyakan eksistensi diri sendiri. Atau amal-amal yang kita lakukan sudah sesuai dengan tuntunan belum. Jadi saat beramal sudah tahu dasar ilmunya dan dengan ilmu beramal bisa maksimal.

Terbukti meski dari kecil memeluk Islam artis Asmirandah setelah menikah mengikuti agama suaminya yang non muslim dan banyak lagi cerita publik figur atau rakyat kebanyakan yang memilih agama lain setelah dewasa. Entah memang dengan pemikirannya atau alasan lainnya.

Inilah pentingnya belajar agama, agar tahu bagaimana agama yang dipeluknya. Tidak sedikit juga yang semakin erat memegang ajaran Agama Islam dengan lebih dekat, lebih taat, dan lebih menyeluruh setelah mengenal lebih dalam agamanya.

Belajar agama hendaknya dengan orang yang khusus atau memang ahli dibidangnya. Guru yang diakui kapasitas dan otorisasi keilmuannya. Tentunya harus mengacu pada Al Quran dan Sunnah. Kalau diluar itu kita harus waspada dan punya rasa skeptis. Jangan sampai kita mengikutinya membabi buta tanpa proses berfikir dan mencari kebenarannya.

Membiasakan diri untuk bertafakur yaitu berfikir dan merenungkan sesuatu. Tafakur bisa saja mengenai ayat-ayat Tuhan, penciptaan alam dan segala isinya atau hal lainnya.

Permasalahan dalam hidup haruslah selalu dipandang dengan kacamata agama. Beragama sudah menjadi bagian yang tidak dapat lepas dari kehidupan karena fitrahnya manusia seperti itu.

Belajar agama diharapkan akan menampilkan akhlak agama yang dianutnya. Kebaikan atau keburukan akan tercermin dari perilakunya dari seberapa jauh mengenal agamanya. Hal ini berlaku bila tidak ada kepentingan lain, selain memang ingin beragama dengan benar.

Beda cerita bila mempelajari Islam dengan tujuan untuk kepentingan lain. Walaupun mengerti dan faham tetapi hal itu ditutupi atau dijadikan alat untuk mendukung kepentingannya tersebut. Memiliki gelar akademis berderetpun tidak ada artinya bila akhlak yang dimiliki bertolak belakang dengan yang diajarkan oleh agamanya. Apalagi keilmuannya itu tidak digunakan untuk membela agamanya.

Islamphobia tercipta karena akhlak-akhlak yang ditampilkan tidak sesuai dengan ajarannya. Ada banyak kepentingan yang menutupinya. Berarti bukan salah Islamnya, bisa jadi karena sudah tercampur dengan kepentingan manusia.

Belajar agama dari kecil lebih dianjurkan dan diutamakan sehingga mudah membentuk kebiasaan yang diwajibkan dalam agamanya, seperti kalau dalam Islam menunaikan rukun Islam yang 5. Semoga tidak salah pilih, agama yang dianut akan membawa keselamatan untuk kita.

#terinspirasi cerita teman yang selama hidupnya terus berganti agama yang berlainan, mungkin seluruh agama yang ada didunia. Agama kok coba-coba?


Sumber gambar: lintas.co.id

Minggu, 05 Maret 2017

SAYAP

Posted by cuap-cuap ratih on 09.47 with No comments
Selalu saja menerima kekalahan.
Apa aku yang salah?
Rasa ini memenjarakan jiwaku.

Terlalu lama terdiam.
Panggilan itu terdengar dari jauh dan saat kuberbalik dia menghantam tubuhku.
Aku ingin berlari.
Menenggelamkan diri dalam kelam samudra.
Membakar marah ini sampai habis tapi hanya gelap yang kugenggam.

Ku terjatuh.
Ku tutup telinga hingga tak kudengar lagi tawa.
Menangis sendiri.

Ku terbangun mendapati diri terkunggung dalam warna cerah yang menyilaukan mata.
Dimana ini? 
Pil pahit yang harus kutelan membawaku dalam dunia lain.

Kuberayun hingga langit terasa dekat.
Airmata menetes dalam kepedihan.
Menggambarkan jalan kehidupan.

Adakah terang hanya fatamorgana? 
Hanya lorong ini akan membawaku kepada Tuhan.
Genggam tanganku.
Berikan aku sayap.

Aku akan menunggu.
Dunia hanya sementara.
Dia selamanya.


sumber gambar by google

Sabtu, 04 Maret 2017

Cuma Mau Jujur

Posted by cuap-cuap ratih on 23.52 with No comments
Mobil mungil kami berusaha membelah jalan Juanda di daerah Depok yang seringkali macet apalagi saat ini sedang turun hujan. Ini saat yang paling menyenangkan buatku. Berdua didalam mobil dan tema apa saja bisa masuk dalam obrolan kami.
Pernah dengar Superman? Iyaa Super hero yang lahirnya di Amerika tuh, bisa terbang dan punya kekuatan super. Nah ga ada hubungannya juga sih cuma mau menyamakan saja kalau Superman selalu muncul pada saat dibutuhkan, suami juga seperti itu pekerjaannya. Bekerja terutama saat ada yang mau operasi karena tanggungjawabnya pada wilayah pembiusan pasien. Dan itu yang seringkali membuatnya berpindah-pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Aku sering menggodanya dengan lagu one call away-nya Charlie puth walaupun cuma tahu reff nya aja pada saat ada telpon yang menghubunginya. Rasanya tu ya dia banget gituh..

“I'm only one call away
I'll be there to save the day
Superman got nothing on me
I'm only one call away”

Suami bercerita, pernah mobil harus masuk ke bengkel dan untungnya bisa selesai satu hari saja. Tapi suami tidak bisa otomatis libur atau tidak bekerja karena tidak ada kendaraan. Siang itu ada dua operasi di dua rumah sakit yang berbeda. Akhirnya suami memutuskan menggunakan armada online, motorlah yang jadi pilihannya. Salah satu keunggulan untuk wilayah yang banyak titik kemacetan bahwa motor bisa sampai lebih cepat disamping armadanya yang banyak berseliweran menjamin ketersediaan dalam menjawab orderan yang ditawarkan.
Saat memesan yang pertama kali suami mendapatkan diskon yang lumayan banyak mencapai 50% dari tarif yang dikenakan seharusnya. Tidak tahu juga kenapa bisa sampai didiskon sebanyak itu. Tarifnya akan dikirimkan melalui email sehingga suamipun akan mengetahui masalah diskon ini, berapa jumlah uang yang harus dibayarkannya.  Pengendara motor online ini sangatlah jujur, meskipun ada email yang memberikan info, dia tetap saja menyampaikan kepada suami jumlah yang harus dibayar termasuk diskonan yang diterima. Bersyukur tugasnya yang pertama berjalan dengan lancar, dan menuju tugas yang kedua di rumah sakit yang berbeda namun tidak terlampau jauh kira-kira 10 km dari rumah sakit yang pertama.
Memesan lagi motor online untuk yang kedua kalinya. Tanpa disangka-sangka dapat diskon lagi dan bertambah besar jumlahnya. Pengendara kedua juga berlaku sama dengan pengendara pertama, dia jujur menyampaikan mengenai tarif yang ada.
Saat akan kembali ke bengkel, tetiba ada telpon masuk yang mengabarkan akan ada operasi cito di rumah sakit yang pertama. Dan suami harus kembali ke rumah sakit yang pertama. Untuk ketiga kalinya suami memesan motor online dan sangat mengejutkan tarifnya tertulis nol rupiah alias gratis. Pengendara ketiga ini tidaklah sama dengan pengendara yang pertama dan kedua, dia sama sekali tidak menyinggung mengenai diskonan yang didapat suami. Di situlah suami menyayangkan tindakan pengendara ketiga ini.
Aku sempat bertanya kepada suami, “kalau saja nih, dia bilang bahwa abang dapat diskon sehingga tidak perlu membayarnya alias gratis. Apa abang tetep akan memberikannya uang?”
“Iya.”
“Kasihanlah, dia sudah kerja. Masa tidak dikasih uang?”
“Tapikan abang dapat diskon,” belaku.
“ya ga apa, anggap aja abang kasih tips tapi sayang dia tidak jujur.” kata suamiku

Masih harus pesan motor online untuk yang keempat kalinya dengan tujuan bengkel. Tarifnya pun kembali seperti biasa, ternyata diskonnya hanya untuk motor online yang pertama sampai ketiga. Meski tidak mengalaminya sendiri aku juga jadi ikut merasakan naik motor online dengan cerita suamiku itu. Kejujuran adalah hal yang utama. Kalau ingin orang jujur kepada kita maka harus dimulai dari diri kita dulu yang harus jujur karena apa yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali pada kita. Kalaupun akhirnya tidak sesuai dengan yang kita usahakan, itu adalah ujian agar kita lebih bersabar. ^^
                                           sumber gambar: duit pintar.com

Jumat, 03 Maret 2017

Pemicu Kebaikan

Posted by cuap-cuap ratih on 14.16 with No comments
Sudah jumat lagi ya? Wah saya lupa titip uang sedekah ke anak saya. Tiap hari jumat rutin memang ada program sedekah di sekolahnya, jadi saya mau ikut juga dong.

Kalau bisa sih setiap hari sedekahnya, ya ga? Sudah taulah kalau sedekah itu akan mendapat pahala dan perniagaan yang tidak ada ruginya.

"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat PAHALA di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati"(Al Baqoroh:274)

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan PERDAGANGAN YANG TIDAK AKAN RUGI"(Fathir:29)

Ihh gitu aja diumumin ga takut riya apa? Jadi orang jangan sombong!

Isshh.. isshh ga boleh suudzon, hayoo.. tidak dilarang kok sedekah terang-terangan asal..

Asal tetap menjaga niat, tidak membuat malu orang yang disedekahi, maksudnya menjaga perasaan dan kemuliaannya dan juga diniatkan hal yang dilakukan itu dapat menjadi pemicu orang lain untuk ikut melakukan hal yang sama, ikut bersedekah juga.

"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau TERANG-TERANGAN serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)" (Ar-Ra'd: 22)

Pemicu kebaikan dengan menitipkan uang sedekah, minimal anak saya juga bisa terpancing untuk melakukan hal yang sama. Balik lagi anak-anak akan lebih faham belajarnya dengan contoh bukan hanya dengan perkataan.

Apa yang mau disombongin juga, belum tentu jumlah uang yang disedekahinya besar, belum tentu sedekahnya uang kan senyum juga sedekah, sedekah tenaga aja juga boleh. Bebas yang penting dah diniatkan untuk bersedekah.

Cocokologinya pemicu kebaikan sama dengan memberikan contoh dalam melakukan kebaikan.

Hari ini pemicu kebaikan apa yang bisa dilakukan selain bersedekah?

Kamis, 09 Februari 2017

Jingga

Posted by cuap-cuap ratih on 13.58 with 5 comments
Kau tau, saat jingga adalah saat memulai hari yang baru.
Jingga memudarkan sendunya kegelapan.
Menyungingkan senyum diwajah pencari kebahagiaan.

Yang kumaksud, dia jingga sang mentari.
Dia membiaskan warna-warni dalam hidup.
Tidak saja tawa tapi juga saat meratapi nyeri dihati.

Saat hujan aku bisa sangat merindukannya, ingin memeluk erat dalam dekapan.
Tapi jingga membuatku kecewa selalu saja menghindar dan mengacuhkan.

Takdir memang akan menang, akupun tak ingin berjanji.
Aku hanya berdoa takdirmu dan takdirku adalah satu.

Suara hatiku tergantung dilangit merambat dalam tiupan angin. Laut pun tidak bisa diam ingin menyampaikannya padamu, jingga.
Aku memang awan hitam, tak bolehkah ku mencintaimu?

Kasihku mungkin tak sampai.
Jiwaku pun terdiam.
Telah tiba saatnya aku pergi.
Membiarkanmu menepis kelam.

Bercahayalah jingga, hingg kau puas.
Rasa sakit yang kurasa adalah milikmu.
Meski pelangi tak terlukis.
Sayangku dan sayangmu akan melengkapi untuk hari yang lebih manis.

***



Minggu, 15 Januari 2017

Perasaan Emak Tentang Debat Cagub DKI 2017

Posted by cuap-cuap ratih on 18.17 with No comments
Perasaan.. yang namanya debat suruh dihindari apalagi yang namanya debat kusir.

Perasaan.. kalau debat itu hanya memperuncing perbedaan. Padahal seharusnya bersatu untuk membangun. Yang ngatur manusia yang diatur juga manusia, permasalahan selesai dengan win-win solution ini yang namanya demokrasi.

Perasaan.. debat sudah seperti acara cerdas cermat tapi tidak ada jawaban benar atau salah jadi tidak ada penambahan nilai.

Perasaan.. perasaan.. oh perasaan.
Namanya juga emak-emak ye. Mikir juga pake perasaan.

Untuk memilih pemimpin memang tidak mudah. Sudah sering nih emak milih pemimpin maklum umur dah banyak kedaftar terus buat milih. Suara emak kadang terwakili kadang juga tidak. Kan yang emak pilih belum tentu jadi pemimpin. Dan pemimpin yang terpilih punya solusi untuk menyelesaikan permasalahan daerah yang dipimpinnya.

Jadi kalau ditanya bagaimana cara memilih pemimpin?

1. Agamanya Islam. kenapa?  Karena sama dengan agama emak. kalau pemimpin takut terhadap Tuhannya dia tidak akan berlaku dzolim terhadap makhluk ciptaanNya. Idealnya sih begitu. Apa lagi sudah diatur dalam Al quran. Ngeri ah.. kalau ga patuh sama Allah. Lihat surat Al maidah ayat 51.

2. Amanah.. gimana liatnya? Yang di calonkan biasanya orang yang sudah biasa memimpin jadi bisa tuh liat dari model kepemimpinannya. Tak kenal maka tak sayang jadi aktif cari tahu siapa mereka. Terutama amanah untuk urusan kepentingan rakyat.

3. Dapat dipercaya.. ucapan dan perbuatannya harus seiring sejalan. Kalau tidak yaa.. namanya munafik dong. Masa iya mau dipimpin sama orang begini. Kalau bisa yang bicaranya lemah lembut juga mendamaikan. Adem deh rasanya.

4. Bisa menyatu dan bekerja sama dengan berbagai pihak. Lihatnya dari bagaimana pemimpin itu dapat diterima oleh semua warganya jadi walaupun ada banyak kepentingan tapi selama kepemimpinannya bisa diterima, tentu semua pihak dapat mencapai kata kesepakatan.

Belajar dari pengalaman yang selama ini seringnya menghadapi pilihan yang sulit. Manusia tidak ada yang sempurna begitu pula dengan pemimpin. Minimal memilih pemimpin yang bisa sesuai hati nurani.

Nah itu cara memilih versi emak. Bagaimana memilih pemimpin versi kamu? Bukan hanya karena faktor suka ya udah pilih "dia" aja karena aku suka.

#smillleee :D bukan warga jakarta sih.. tapi perduli, bolehkan?