Kamis, 03 Mei 2018

Baca Buku dan Menonton Filmnya Ayat-Ayat Cinta

Posted by ratih honey on 05.33 with 2 comments
Buku ayat-ayat cinta pertama kali di cetak tahun 2004 dan sudah tercetak hingga 160 ribu eksemplar selama 3 tahun. Sudah berapa banyak tuh yang membacanya, belum lagi pembaca yang pinjam buku temannya, bisa juga dari e-book, maka  tidak dapat dihitung hanya dari berapa banyak buku yang sudah tercetak. Pokoknya banyak jumlah pembacanya.

Tahun 2008 keluarlah dalam bentuk film yang garapannya berlokasi di India dan Indonesia. Meski begitu tidak menghilangkan kesan kemesirannya yang memang penulis ceritakan dalam bukunya.

Penulis Habiburrahman El shirazy  menggambarkan seorang pemuda muslim Indonesia asli, dari pelosok desa kecil di pulau Jawa sedang belajar di universitas Al Azhar.  Atas perjuangan segenap jiwa raga dia bahkan mampu sampai kuliah S2 semata-mata yang dilakukannya bertujuan agar dapat membawa ilmu pengetahuan dan mengembangkan dakwah sekembalinya ke tanah air.

Seorang pemuda yang menghidupi diri sendiri dengan menjadi penterjemah buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Setiap target dalam hidupnya dia tuliskan dengan jelas, agar semua tujuannya bisa tercapai.

 ‘Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus!’

Itu dia kutip dari Thomas Carlyle mengenai catatan yang dia tempelkan di dinding kamarnya. Sehingga setiap saat dirinya teringatkan akan tujuan-tujuannya.

Kata-kata yang tertulis dalam bukunya begitu mengalir membuat imajinasi berkelana seakan berada disana dan melihat sebagaimana yang dirasakan oleh "Fahri", nama pemuda si tokoh utama. Juga bisa merasakan apa yang dirasakan, seperti saat pertama kali melihat calon istrinya "Aisha" gadis keturunan Turki berkewarganegaraan Jerman saat membuka cadar untuk memperlihatkan wajahnya. Penyiksaan saat dalam penjara karena mendapatkan fitnah keji dari perbuatan  "Noura" atau turut menjadi saksi saat "Maria" yang pada kondisi genting menjadi istri kedua dan menjadi seorang muslimah pada akhirnya.

Tidak salah juga bila film yang di garap oleh Hanung Bramantyo mendapatkan penghargaan sebagai Film terpuji dan 4 penghargaan lain di ajang festival film Bandung (FFB) dari 11 kategori. Meski Fedi Nuril bisa membawakan sosok Fahri dengan baik hingga mendapatkan penghargaan pemeran utama pria terpuji di ajang yang sama, bagaimanapun saat menonton filmnya mau tidak mau jadi ikut menilai berdasarkan alur cerita dalam buku.

Jadi penasaran bagaimana adegan saat Fahri mengalami sakit hingga di rawat di rumah sakit beberapa hari yang tidak diceritakan di dalam film dan beberapa adegan lainnya. Tentu saja karena film hanya berdurasi dua jam-an saja sedangkan banyak peristiwa hidup yang diceritakan dalam buku yang tebalnya sebanyak 292 halaman itu.

Dalam bukunya juga banyak menggambarkan mengenai dakwah Islam dan pelajarannya. Menceritakan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang baik menurut pandangan Islam hingga menggambarkan kemuliaan wanita dalam Islam. Betapa Islam menghargai dan memandang wanita sebagai pribadi yang memiliki hak dan kewajiban seperti halnya laki-laki.

Saat membaca buku dan menonton filmnya, di lubuk hati ini tertinggal rasa lega dan rasa senang. Ke depannya berharap akan mendapatkan rasa yang sama dengan karya anak bangsa lain atau diri sendiri yang ingin dapat membuat karya dimana pembaca dapat menikmati dan merasakan apa yang dibacanya.

#Tugas RCO#Tugas2Level3
#OneDayOnePost









2 komentar:

  1. Novel ini satu2nya yg aku baca selesai semalem. Meski kecewa dgn filemnya.

    BalasHapus
  2. Jujur Aq juga lebih senang baca bukunya dari pada nonton filmnya.^^

    BalasHapus