Jumat, 20 April 2018

Teman Perjuangan

Posted by Unknown on 05.49 with No comments
"Aduh garsini, ini berat sekali. Tak bisakah kau meringankan bebanku sedikit saja." Orang ini membuatku terus memikul beban yang berat, tidak setiap hari sih tapi seringnya begitu.

"Hari ini kita mau kemana sih garsini?" tanyaku.
"Tunggu disini sebentar aku mau ke toilet dulu ya," jawabnya.
Pertanyaanku malah dijawab dengan meninggalkanku sendirian. Ya sudahlah aku tunggu saja di sini. Tempat ini begitu ramai membuatku sedikit takut. Aku lihat sekeliling begitu banyak orang mondar-mandir membawa tas besar-besar, sesekali aku juga mendengar suara pesawat yang melintas diatasku.

Ah dia sudah kembali.
"Yuk kita harus pergi sekarang," menggandeng tanganku dan memberi aba-aba untuk ikut dengannya. Suasana sekelilingku bertambah ramai. Banyak yang berbicara dengannya ada juga yang memeluknya erat seperti tidak mau ditinggalkan lama-lama. Wajah mereka tersungging senyum tak lama mereka saling melambaikan tangan.

Aku dan garsini berjalan menjauh dan memasuki ruangan lain yang terpisah. Disini banyak orang yang memakai seragam. Bukan saja garsini, aku juga ikut diperiksa oleh orang itu. Setelah selesai diperiksa aku dan garsini tiba di suatu ruangan yang masih sama besar dan luas sebelum ruangan pemeriksaan tadi.

Berjejer tempat duduk dan sebagian sudah terisi oleh orang yang menunggu. Garsini mengajakku duduk dekat jendela. Ternyata banyak pesawat terbang diluar sana. Aku melihat satu yang paling dekat dengan jendela dan itu besar sekali. Baru ini aku melihatnya dari jarak yang cukup dekat.
"Apakah kita akan naik itu garsini?" Tanyaku sambil menunjuk benda putih besar itu.
"Iya, yuk kita mau berangkat sekarang, petugas sudah memanggil kita masuk."
Setelah mengantri, tiketpun sudah diperiksa. Aku dan garsini memasuki ruang serba tertutup, tidak ada jendela dan seperti terowongan, kami harus melaluinya, diujung sudah ada petugas lagi yang menyambut dan mengarahkan kami untuk duduk sesuai nomor yang sudah tertera.

Aku takut, tak ingin jauh dari garsini karena baru ini aku ke tempat seperti ini.
"Nah, mulai saat ini kau harus tetap di sisiku, kita akan ke Jepang," mata garsini sedikit berair tapi memancarkan semangat yang tak akan luntur dan menyurutkan langkahnya untuk meraih pendidikan yang tinggi.

"Mbak, Tasnya bisa disimpan di atas saja," seorang pramugari menawarkan untuk menyimpankan tas ransel berwarna hitam yang sebelumnya ada dipangkuan garsini ke tempat penyimpanan tas yang ada diatas kepala penumpang.

"Oh iya mbak,"jawab Garsini sambil menyerahkan tas ransel hitamnya.

"Ah garsini, aku mau kau pangku saja, disana gelap dan sumpek," teriakku.
Apa daya dengan sigap pramugari meletakkanku dengan manis berjejer dengan tas yang lainnya. Terdengar suara "Pluk" saat pintu penyimpanan tas ditutup.

Beberapa saat kemudian pesawat siap untuk terbang.

0 komentar:

Posting Komentar