Rabu, 02 Agustus 2017

Andre

Posted by Unknown on 00.00 with No comments
Nasha meneguk kembali air minumnya. Hari yang panas seperti telah mengambil sebagian cairan dalam tubuhnya yang kurus terbalut kulit. Dia meminum lebih dari tiga tegukan dan langsung mengkosongkan botol minum yang tinggal seperempat isi. Matanya kosong menatap serius padahal pikirannya sudah melayang entah kemana.
”Ini sudah hari ke enam puluh tiga ya?”tanyanya dalam hati. Dia meletakkan pulpen yang sejak tadi dipegangnya. Lalu Lalang orang yang ada diperpustakaan itu tidak mengganggu kebengongannya. Seakan tidak perduli apa yang terjadi di sekitar, Nasha hanya dipenuhi oleh pikirannya sendiri.
Dia buka lagi pesan yang dia temukan di dalam lokernya. Tertulis dengan huruf Kapital tebal
 “WAKTUMU HANYA 100 HARI TERHITUNG HARI INI” 
Hanya itu tidak ada nama yang di tuju dan tidak ada nama pengirimnya.
Mbok, kalau mau kirim pesan ya lewat WA kek, SMS kek, Messager kek. Ni orang dari jaman bahela kali ya?
Ooh GOD, ini apa? Dead noted?
Nagih hutang? Perasaan ga punya hutang.
Siapa sih? Serius?
Gini hari ada aja orang yang iseng ngelakuin hal macam ini. Gak mau di gubris nanti penting, digubris tau-tau ga penting. Otak Nasha sibuk berpikir.
Dari perpustakaan, ke kelas, balik lagi ke perpustakaan dan berakhir di kantin. Nasha hanya bisa menghela nafasnya. Semangkok baksopun habis menjadi pelampiasan rasa jengkelnya karena tidak ada satu ide pun yang nyangkut dalam gambaran otaknya siapa yang menulis pesan itu dan untuk apa?
“Tungguin aja kali ya sampai 100 hari kita liat aja apa yang akan terjadi,” Nasha sudah pasrah dan berencana untuk menanti hari ke seratus. Apa yang akan terjadi maka biarlah terjadi pikirnya.
“Papi, besok ketemu ya aku mau ngomong,” berbicara dengan seseorang di telpon. Kemudian dia mengangguk beberapa kali dan mengucapkan salam sebelum menutup terlponnya.
***
“Papi,” panggil Nasha kepada lelaki tua berbaju putih yang sedang menulis sesuatu di mejanya.
“Masuk sha,” lelaki tua itu beranjak dari kursi meninggalkan aktivitas menulisnya dan berjalan kearah Nasha. Mempersilakannya untuk duduk di sofa yang berada di sudut ruangan dekat jendela. Ruangan itu tidak besar, di seberang pintu langsung berhadapan dengan meja kursi kerja dan sofa disebelahnya sudah cukup penuh mengisi ruangan itu.
“Sehat sha?” tanya lelaki tua yang dipanggil papi oleh Nasha.
“Aku sehat pi,”
Diserahkan kertas pesan yang ditemukan dalam lokernya. Papi menerima lalu membacanya dan mengangguk tanda mengerti.
“Apa yang kamu pikirkan sha?”
Nasha mengangkat bahunya sesaat dan menurunkan sembari menghela nafas. Entah masalah apa yang akan terjadi pada dirinya. Itulah yang ada dalam pikirannya tapi tidak ia utarakan.
“hari ini sudah hari ke enampuluh empat, pi”
“Tidak perlu panik atau cemas dulu sha,” meski tidak diucapkan papi tahu apa yang dirasakan oleh Nasha, tangan nasha tidak lepas dari pada bagian belakang lehernya. Hal itu menunjukkan kecemasan yang cukup intens.
“Lebih baik kamu tenang dulu,” disuruh papi untuk tenang, Nasha malah merasakan kantuk. Nasha dan papi tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk beberapa saat. Lantunan musik instrumentalia yang telah dipasang papi sebelum Nasha datang semakin membuat matanya berat untuk lama-lama dibuka. Kalau tidak ingat ini di kantor papi, pasti Nasha sudah rebahan sambil memeluk bantal. Entah mengapa disini Nasha merasa hati dan kepalanya bisa merasa tenang setelah beberapa hari tidak bisa tidur dengan benar.
“Papi!” tetiba Nasha bangun dari sofa.
Papi sedikit terkejut, karena tiba-tiba Nasha bergerak dan langsung berdiri, berjalan mondar-mandir di hadapannya.
“Duduk sini, sha,” dengan sabar papi mempersilahkan Nasha untuk duduk kembali di sofa.
Nasha hanya melihat kearah papi tanpa kata, tapi mengikuti intruksinya untuk duduk.
“Yang menulis ini siapa?” coba diserahkan kertas pesan itu kembali kepada Nasha.
Nasha hanya melirik kertas itu.
“Lho kenapa jadi tanya aku?” jawab Nasha.
“Emang papi ga boleh tanya ya?” canda papi sambil tersenyum.
Nasha membuang muka dan mendengus tidak perduli.
“Pesan ini buat siapa ya?” papi pura-pura bertanya kepada dirinya sendiri, meski maksudnya bukan itu. Kertas pesan itu dibolak-baliknya seakan-akan itu kertas yang sangat menarik, yang perlu diteliti dan diperhatikan dengan seksama.
“Bukan buat siapa-siapa!”
“Lagian papi ngapain sih ngurusin itu?”
“Jadi kamu yang menulis ya?” tanya papi penasaran.
“Bukan!”
“tapi kelihatannya kamu tau siapa yang menulis ini,”
Nasha diam saja
“Bisa kasih tau papi?” papi merogoh saku celana untuk mengambil sesuatu didalamnya. Ternyata sebuah lipstick merk vivele yang diimport dari negara tetangga sebelah dan pandanginya bolak-balik di depan Nasha.
Nasha melirik, sikapnya seperti tidak tertarik dengan apa yang ada ditangan papi tapi ada seberkas percik cahaya kesenangan dimatanya yang berwarna coklat muda. Semakin lama melihat lipstik itu semakin penasaran Nasha dibuatnya.
“Kasih tau dulu siapa yang menulis pesan di kertas dan lipstik ini buatmu,” tawar papi sambil mengacungkan lipstik yang masih terbungkus plastik transparan.
“Itu Andre yang menulisnya,” Nasha tidak dapat menahan diri untuk tidak merebut lipstik dari tangan papi
“Siapa Andre?” tanya papi
“Dia anak yang jarang berbicara, kerjanya hanya tidur!,”
“Lalu untuk apa dia menulis pesan ini,”
“Mana aku tau! tanya saja sama orangnya sendiri,” jawab Nasha acuh tak acuh tapi merasa senang mendapatkan lipstik kesukaannya.
“Kamu Lani ya?” selidik papi
“Iya,” tanpa sedikitpun menoleh kearah papi, mulai mencari cermin yang ada didalam tasnya.
“Papi bisa bicara dengan Andre?”
“Kan aku sudah bilang dia itu tukang tidur, ya lagi tidurlah dia sekarang!”
“Sebentar saja, bisa ya?” papi tidak akan menyerah begitu saja.
“Lebih baik jangan,” wajah Nasha terlihat serius memandang papi.
“Kenapa?” tanya papi penasaran
“tidak perlu membangunkannya. Dia pernah bilang ingin membunuh Nasha. Aku juga tidak suka Nasha tapi tidak perlu sampai segitunya juga,”
“Jadi apakah pesan itu memang untuk Nasha?” wajah papi tampak serius berkali-kali lipat.
“Mungkin,” sikapnya kembali acuh sambil memerahkan bibir tipisnya dengan lipstik baru pemberian papi eh.. hasil rebut dari papi.
“Tapi kalau Nasha mati, kamu juga akan mati Lani,”
Tampaknya Lani sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan papi. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahkan Andre akan berani berbuat seperti itu. Lani berpikir Andre hanya membual. Nasha melihat kearah papi mencari kebenaran dari ucapan yang di lontarkan itu.
“Berarti aku harus membunuhnya lebih dahulu sebelum dia membunuhku,”
Tetiba music berhenti dan tubuh Nasha terduduk lemah di sofa.
“Papi, sudahkah mengetahui siapa yang menulis pesan itu?” tanya Nasha
“Hem..” papi mengangguk pelan.
“Benarkah? Siapa pi?”
“Andre,” jawab papi singkat
“Andre? Siapa itu?”
“pemuda yang senangnya tidur dan ingin membunuhmu,” jawab papi dan menyerahkan kepada Nasha keputusan apa yang akan diambil dalam kasus pesan itu.
“Hahaha..” Nasha tertawa meski tanpa ada pelawak yang sedang membawa lawakannya. Nasha merasa lucu.
“Kenapa?” tanya papi
“Papi, dia itu tukang tidur, apa yang bisa dilakukan oleh orang malas dan tiada guna itu. Untuk melakukan sesuatu atas dirinya saja malas apalagi untuk orang lain. Membunuh? Itu hanya bualannya saja. Aku tidak percaya!” jawab Nasha percaya diri.

Papi sudah sejak dua tahun lalu menangani kasus ini, Nasha dan Lani dua karakter yang berbeda bahkan bertolak belakang. Nasha tidak banyak bergerak. Sikapnya selalu penuh misteri apa yang dilihat darinya bukanlah sikap yang sebenarnya. Dia tersenyum padahal menangis dalam hatinya. Tertutup dan tidak mudah bergaul dengan orang lain.
Lain lagi dengan Lani yang mengekspresikan apa yang sedang dirasakannya. Orangnya banyak bergerak. Agak acuh tapi mengawasi dengan baik. Dia mungkin tidak suka keramaian tapi minimal dia dapat bercakap-cakap dengan orang baru dikenalnya.
Hari ini baru Papi, psikiater yang menangani Nasha menemukan identitas lain dari dirinya yakni “Andre” pemuda tanggung yang senang tidur di setiap kesempatan dan ingin membunuh Nasha.
Benak Papi dipenuhi dengan berbagai pikiran. Apakah karakter Andre baru tercipta atau sudah lama ada. Apakah benar dia bisa membahayakan Nasha? Tidak ada yang mengetahuinya Bahkan Nasha sendiri. Adalah Nasha seorang gadis dengan DID.


#Dissociative Identity Disorder

0 komentar:

Posting Komentar